Para mitra strategis Grab bisa memanfaatkan kemampuan basis data Grab untuk membaca perilaku kecurangan di lapangan. Head of User Trust Grab Wui Ngiap Foo mengatakan Grab Defence didasari oleh machine learning yang menganalisis jutaan data secara real-time untuk mendeteksi pola kecurangan
"Grab Defense adalah layanan yang bisa dipakai mitra untuk perbaiki sistem keamanan mereka untuk atasi proses kecurangan yang ada. Kami membangun algoritma yang juga dapat berevolusi dan mempelajari polanya sehingga kita bisa selangkah lebih maju dari pelaku kejahatan" kata Wui saat acara peluncuran Grab Defense di daerah Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (13/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini adalah kumpulan data berbagai banyak nomor telepon dan email yang sudah kami identifikasi mana yang curang dan yang tidak," kata Wui.
Fitur kedua digunakan memprediksi potensi risiko kepada semua pengguna yang berinteraksi dengan platform tersebut. Sebagai contoh, pelaku bisnis dapat menggunakan layanan ini untuk mendapat informasi nilai risiko dari pengguna baru.
"Bagaimana cara kami tahu bahwa ada akun e-mail dan telepon bisa dimodifikasi arau cara kami menangani Fake GPS sehingga tidak bisa dilakukan untuk kecurangan," kata Wui.
Manfaat lain dari fitur ini adalah bisa membantu pelaku bisnis untuk menangkal pembuatan akun palsu akibat perangkat yang berpindah tangan. Perusahaan yang menyandang status decacorn ini akan merilis fitur defence untuk mitra strategis terpilih di lndonesia pada kuartal kedua dan akan diluncurkan ke seluruh mitra strategis pada akhir tahun ini. (jnp/evn)