Toyota Indonesia Optimis di Segmen 'Flexy Engine'

ray, CNN Indonesia | Kamis, 21/03/2019 16:20 WIB
Toyota Indonesia Optimis di Segmen 'Flexy Engine' Foto: CNN Indonesia/Tachta Citra Elfira
Jakarta, CNN Indonesia -- Mobil dengan mesin berbahan bakar energi terbarukan, biofuel atau disebut program 'flexy engine' diprediksi akan menjadi program pemerintah selanjutnya guna menekan ketergantungan bahan bakar minyak.

Menanggapi hal tersebut, Presiden Direktur Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Warih Andang Tjahjono mengatakan pihaknya siap berkompetisi di kategori tersebut.

Setelah perluasan B20 atau Biodiesel 20, industri otomotif Indonesia sedang menghadapi program mandatori campuran Biodiesel sampai 30 persen untuk bahan bakar (B30) yang akan diumumkan pada akhir tahun ini.


Menurut Warih agar mesin sesuai dengan B30, pihaknya harus melakukan riset bersama pemerintah.

"Sekarang kami (sudah kompatibel) B20, kami sekarang mempersiapkan B30 akan kami siapkan terus," ucap Warih saat ditemui wartawan di Jakarta, Selasa (19/3).

Tidak berhenti sampai di B30, pemerintah bahkan ingin meneruskan sampai B100. Rencana jangka panjang melalui program pada skema Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), yakni B100 dan E100. Untuk kendaraan yang termasuk jenis tersebut pengenaan pajak hanya delapan persen.

Menurut Warih tidak menutup kemungkinan pihaknya ikut bermain pada dua kendaraan jenis itu. Apalagi untuk E100 yang juga masuk program flexy engine. Menurutnya hal tersebut terbilang 'mudah' berdasarkan pengalaman TMMIN memproduksi mesin berbahan bakar etanol 100 persen yang diekspor ke Amerika Selatan.

Mesin tersebut diproduksi pabrik TMMIN di Karawang, Jawa Barat untuk kebutuhan ekspor ke Argentina baru setelahnya dikirim ke Brazil dalam bentuk Toyota Fortuner.

"Jadi kalau infrastruktur siap, untuk etanol kami siap nih. Step by step lah. Kami juga lagi perjuangin banget B30," ungkapnya.

Ia juga mengatakan bukan hal sulit merancang produk dengan spesifikasi mesin E100 atau B100. Dijelaskan Warih yang terpenting di sini menentukan harga jual yang 'pas' dengan kantong konsumen di Tanah Air.

"Jadi kalau ganti ke arah yang lebih biodiesel dan high etanol, kalau pricing engga pas ya gimana konsumen. Dan semua harus kami jaga. Semua stake holder harus mikirin itu. Bagaimana konsumen nanti saat terima energi terbaru, B20 udah berikutnya bagaimana," tutup Warih. (ryh/mik)