Perusahaan yang didirikan oleh Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Moeldoko itu mengaku prototipe bus listrik yang sudah dibangun siap diuji dan bahkan siap diproduksi bila akhirnya diminta Transjakarta.
Prototipe bus listrik MAB bernama MD12-E yang muat 60 penumpang. Bus yang saat ini dipajang di acara Busworld South East Asia 2019 di Jakarta ini memiliki panjang 12 m, lebar 2,5 m, tinggi 3,72 m, dan wheelbase 6,1 m.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pihak MAB mengatakan kecepatan MD12-E dibatasi hanya 70 km per jam atas alasan keamanan dan keselamatan.
Menurut Presiden Direktur MAB, Leonard, prototipe ini diproduksi oleh perusahaan karoseri New Armada. Dia menjelaskan desain, sasis, dan bodi dikerjakan anak bangsa. Komponen yang belum bisa dibuat sendiri adalah baterai, motor listrik, dan sistem kontrol.
Pada MD12-E, tiga komponen impor yang disebut didatangkan dari China. Baterai itu dijelaskan punya usia pakai lima tahun, setelah itu wajib diganti dan harganya dikatakan 'mahal'.
"Mungkin baterai itu bisa sepertiga dari kendaraan itu sendiri harganya. Tapi kan baterai yang digunakan tidak dibuang tapi bisa digunakan untuk industri rumah tangga, bisa jadi pembangkit listrik, solar cell," kata Leonard.
Leonard meyakini walau posisi sebagian baterai ada di kolong bus, komponen ini tahan banjir. Menurut dia pihaknya sudah melakukan pengujian baterai ditenggelamkan 2-3 meter di dalam air dan hasilnya dikatakan aman jadi disimpulkan tidak ada masalah kala banjir.
Dalam hitung-hitungan Leonard, misalnya biaya operasional bus konvensional Rp100 per km, pada MD12-E hanya Rp30. Bukan hanya soal biaya operasional, dikatakan juga bus listrik tidak menghasilkan emisi gas buang dan polusi suara seperti bus konvensional.
MAB saat ini sedang menyiapkan diri untuk memproduksi bus listrik dalam jumlah banyak melalui Karoseri Anak Bangsa yang menjadi bagian perusahaan. Lokasi produksinya disebut berada di Kudus.
Bila sudah ada komitmen dari Transportasi Jakarta (Transjakarta) terkait pengadaan bus listrik, Leonard mengaku bisa memproduksi hingga 100 unit per bulan. (fea/mik)