PLTSa ini dapat menghasilkan listrik sebanyak 750 kWh perhari menggunakan sampah yang sudah tidak dapat dimanfaatkan lagi. Jika dikonversi, daya sebesar ini bisa digunakan untuk menyalakan 68 AC berkekuatan 1 PK yang digunakan 15 jam setiap harinya.
"Kalau kita tidak mulai, kapan kita mau maju. Ini penting, kita bikin saja. Nanti kalo ini (PLTSa) sudah jadi 100 ton/hari, (selanjutnya) kita bikin untuk kota-kota seperti Labuan Bajo, Balige, Pontianak, kota-kota yang produksi sampahnya sekitar 100-200 ton/hari," jelas Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan melalui siaran pers seperti dikutip dari Antara, Selasa (26/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, jika dapat diterapkan pada kota-kota lain di Indonesia, maka permasalahan penyediaan lahan untuk pembuangan sampah akan teratasi.
Karakter sampah di Indonesia juga mengandung bahan organik yang tinggi, memiliki kelembapan yang tinggi, dengan nilai kalori yang rendah. Lebih jauh lagi, teknologi dan alat yang digunakan mengandung TKDN yang tinggi.
"Ini merupakan hasil kajian BPPT dan dibangun dengan mitra lokal. Sebagian besar peralatan merupakan produksi dalam negeri sehingga kami dengan bangga menamakannya PLTSa Merah-Putih," ungkap Riza.
Pengelolaan sampah menjadi listrik di Bantar Gebang diharapkan bisa mengurangi maslaah dari limbah buangan itu (CNN Indonesia/Eky Wahyudi) |
"Jangan sampai berpikir untuk menghasilkan energi, tapi berpikir bagaimana Jakarta bersih, Bekasi bersih, itu yang penting. Kita jangan menghitung berapa cost (biaya) per kWh-nya," pungkas Menristekdikti.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan meresmikan proyek percontohan (pilot project) Pengolahan Sampah Proses Thermal PLTSa Bantargebang di Bekasi, Jawa Barat, yang hampir seluruhnya memanfaatkan komponen lokal.
"Sampah ini menurut saya masalah yang harus kita selesaikan. Kita gunakan teknologi dalam negeri. Pilot project ini hampir seluruhnya menggunakan Tingkat Komponen dalam negeri (TKDN)," katanya dalam siaran pers di Jakarta, Selasa.
Selain itu juga dihadiri oleh Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Kemenko Bidang Kemaritiman, Dirjen Pengolahan Sampah dan Limbah B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Walikota Bekasi, Walikota Tangerang Selatan, dan Para Pejabat Eselon 1 BPPT.
Luhut menuturkan, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang diberi nama PLTS Merah-Putih ini adalah upaya pemecahan masalah sampah perkotaan di Indonesia. (antara/eks)
Pengelolaan sampah menjadi listrik di Bantar Gebang diharapkan bisa mengurangi maslaah dari limbah buangan itu (CNN Indonesia/Eky Wahyudi)