Mengenal Gajah Kerdil dari Borneo

CNN Indonesia | Rabu, 27/03/2019 10:13 WIB
Mengenal Gajah Kerdil dari Borneo Ilustrasi gajah. (Foto: ANTARA FOTO/Irwansyah Putra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gajah Borneo (Elephas maximus borneensis) merupakan jenis gajah dari subspesies gajah Asia yang hanya ditemukan di Kalimantan. Gajah Borneo memiliki sebutan sebagai gajah kerdil lantaran hanya memiliki tinggi sekitar 2,9 meter. Sementara gajah Sumatera dewasa umumnya memiliki tinggi 3,5 meter.

Selain ukuran, ciri-ciri fisik gajah kerdil ini antara lain memiliki ukuran telinga lebar dan ekor panjang yang menyentuh tanah. Kendati ukurannya kecil, gajah Borneo sanggup berjalan sejauh tujuh hingga 13 kilometer dalam sehari.

Kendati mengusung nama Borneo (Kalimantan), WWF mencatat populasi gajah Borneo terbesar ada di wilayah Sabah, Malaysia dengan 1.500 hingga 2.000 ekor. Sementara di Indonesia, gajah Borneo hanya ada 30 hingga 80 ekor.


Minimnya populasi gajah Borneo membuatnya masuk daftar merah IUCN. Penyebabnya tak lain karena hilangnya habitat gajah Borneo akibat penebangan hutan dan alih fungsi hutan oleh tangan manusia.

Gajah betina umumnya hidup berkelompok, sementara gajah jantan hidup menyendiri dan hanya bertemu dengan betina saat musim kawin. Betina hanya melahirkan satu anak dengan periode kehamilan 19 hingga 21 bulan.

Riset yang dilakukan Luke Evan, ekologis dari Sentral Lapangan Danau Girang Malaysia selama 10 tahun mencatat pergerakan gajah Borneo menggunakan GPS. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan jika gajah menyukai hutan yang lebih terdegradasi untuk memudahkan pergerakan dan sinar matahari melewati pohon-pohon pendek.

Sinar matahari yang menembus pepohonan memudahkan pertumbuhan tanaman di dekat tanah untuk membantu memuaskan nafsu makan gajah yang besar.

"Ada banyak keuntungan melindungi hutan rimba, akan tetapi kami menemukan bahwa hal tersebut tidak sepenuhnya membantu untuk gajah." kata Luke, dilansir dari Mongabay.

Sejak 2003 hingga 2010, sekitar 16 persen area habitat gajah Borneo beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit. Akibatnya, area pergerakan gajah untuk beraktivitas dan mencari makan semakin terbatas dan membuatnya masuk ke kawasan manusia.

Demi menjaga habitat gajah Borneo, sejumlah inisiatif dilakukan untuk banyak pihak melalui program konservasi sejak 2016 lalu. Agus Suyitno, Human-Elephant Conflict Mitigation Officer dari WWF-Indonesia, menyampaikan bahwa target konservasi gajah, walau pun belum maksimal tapi ditargetkan dapat menyelamatkan populasi dan habitat gajah Borneo di Kalimantan Utara. (lea/evn)