Menurut data Aspelindo, kapasitas terpasang produksi pelumas berdasarkan Lube Oil Blending Plant (LOBP) mencapai 1,8 juta kiloliter per tahun. Dari total kapasitas itu produksi yang baru termanfaatkan sebesar 40 persen (720 ribu kiloliter).
Salah satu kendala pemanfaatan produksi tidak bisa ditingkatkan sebab pelumas impor banyak beredar di Indonesia. Selain itu, ekspor dari produsen lokal juga belum terbuka lebar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Regulasi wajib SNI pelumas otomotif tertuang pada Keputusan Menteri Perindustrian Nomor 25 Tahun 2018 yang sudah diundangkan pada 10 September 2018 dan akan berlaku pada 10 September 2019.
Direktur Industri Kimia Hilir Direktorat Jenderal Kementerian Perindustrian Taufiek Bawazier menjelaskan salah satu latar belakang diterbitkannya regulasi itu untuk meningkatkan daya saing produsen lokal. Selain itu juga guna meningkatkan kapasitas produksi lokal.
Andria Nusa, Ketua Bidang Asosisasi dan Pengembangan Aspelindo mengatakan tujuan pihaknya dengan adanya wajib SNI pelumas otomotif yakni untuk meningkatkan pemanfaatan kapasitas produksi, buat menambah pemenuhan kebutuhan pelumas lokal dan ekspor. Buat memenuhi kebutuhan dalam negeri, dia ingin bisa meningkat dari 75 persen menjadi 95 persen.
"Kami berharap [produksi lokal memenuhi kebutuhan pelumas dalam negeri] bisa meningkat 100 persen tentu tidak, biar bagaimanapun ada kebutuhan oli-oli tertentu yang memang mungkin harus impor. Paling tidak sampai 95 persen," kata Andria di Jakarta, Rabu (27/3).
Lihat juga:'Wajib SNI Pelumas Bukan Anti-Impor' |
"Kami sudah investasi cukup tinggi, biaya membangun LOBP, Lube Oil Blending Plant. Biaya Shell membangun yang di Marunda itu sekitar Rp2,1 triliun, Pertamina membangun yang baru ... lebih dari Rp1,5 triliun," kata Andria.
Pemenuhan 95 persen kebutuhan pelumas di Indonesia dari produksi lokal diperkirakan Andria bisa tercapai dua atau tiga tahun setelah wajib SNI pelumas diberlakukan. Di luar itu, ungkap Andria, anggota Aspelindo bisa meningkatkan ekspor pelumas.
"Kami berharap itu, Pertamina melakukan ekspor, kami berharap produsen-produsen lain bisa melakukan ekspor juga, jadi yang sisa kapasitas itu bisa digunakan untuk ekspor," ucap Andria. (fea)