Tagar itu muncul pertama kali pada 28 Maret yang diinisiasi oleh salah satu aktivis feminisme yakni Lini Zurlia. Ia menyertakan sebuah foto yang memperlihatkan sebuah kertas bertuliskan 'Saya Golput' melalui akun Twitternya @Lini_ZQ
[Gambas:Twitter]
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Forum Pegiat Media Sosial Independen (FPMSI) sendiri telah menggelar sebuah aksi membubuhkan tanda tangan guna mendukung gerakan Anti Hoaks Tolak Golput dan Ajakan Jangan Takut Memilih, hari ini di kawasan Bundaran Hotel Indonesia bertepatan dengan Car Free Day (CFD).
Menurut dia, jika tagar tersebut terus diviralkan maka akan memengaruhi pemilih baru.
"Kalau tagar #SayaGolput diviralkan, itu bisa memperburuk mental pemilih baru yang niatnya excited untuk nyobolos. Nanti malah ikutan golput karena dilema dan termakan omongan netizen melalui tagar tersebut," katanya.
Lain halnya dengan Dinda, Galih (24) salah satu masyarakat yang ikut meramaikan Car Free Day (CFD) berpendapat bahwa tagar #SayaGolput muncul karena kedua pasangan calon capres dan cawapres saat ini belum dapat memberikan kepercayaan kepada masyarakat.
[Gambas:Video CNN]
(asa/asa)