Untuk membuat salinan itu, ia mengambil sidik jari dari gelas, mengolahnya gambar sidik jadi di Photoshop, dan membuat model 3D dari foto itu di 3ds Max.
Lantas model sidik jari 3D itu dicetak selama 13 menit diatas kaca plastik bening. Setelah salah lantaran lupa membalik (mirror) model sebelum dicetak pada percobaan pertama, ia berhasil menipu sensor itu dalam percobaan ketiga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Samsung tidak menggunakan sensor sidik jari kapasitif pada ponsel anyarnya ini. Alih-alih ia menggunakan sensor pemindai ultrasonik agar pemindaian sidik jari lebih sulit dikecoh. Namun, ternyata tetap tak terlalu sulit untuk bisa mengecoh pemindai itu.
Hal ini mesti membuat pengguna yang kerap menggunakan sensor sidik jari lebih waspada. Apalagi saat ini makin banyak aplikasi pembayaran dan perbankan yang menggunakan sensor sidik jari untuk mengidentifikasi penggunanya.
Selain itu, teknik mengecoh pemindai biometrik bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, pada 2016 polisi sempat menggunakan cara serupa agar bisa masuk ke ponsel seorang korban pembunuhan.
Meski demikian, Ian Thornton-Trump, Kepala Keamanan Siber dari AmTrust Europe menyebut pemindai sidik jari, wajah, dan pengenal suara ini tak perlu dihindari bagi orang-orang biasa. Sebab, menurutnya akan selalu ada celah dalam sebuhah sistem keamanan.
"Tren keamanan biometrik di perangkat elektronik bagi konsumen tidak akan pernah terlalu aman," jelasnya. "Saya bukan pengggemar pengenal wajah, suara, atau sidik jari, tapi konsumer menyukainy dan itu bukan hal yang buruk," seperti dikutip Business Times China.
Bahkan darkshark menyebut bahwa sensor ultrasonik masih lebih sulit ditipu ketimbang pengenal sidik jari kapasitif atau optik. "Pemindai sidik jari optik bahkan bisa dikecoh hanya dengan memindai dan mencetak sidik jari di kertas," tuturnya. (eks/eks)