Dilansir dari Science News, sebetulnya lubang hitam sangat 'pemalu' terhadap kamera. Lubang hitam yang masuk kategori Supermassive Black Hole ini berlindung di pusat galaksi. Jika dilihat lebih dekat, lubang hitam raksasa ini dikelilingi oleh piringan akresi bercahaya.
Lalu, bagaimana para ilmuwan dapat mengabadikan gambar pertama lubang hitam kemarin malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Mengungkap Rahasia di Balik Lubang Hitam |
Teknik yang disebut interferometri baseline yang sangat panjang ini menggabungkan gelombang radio yang dilihat oleh banyak teleskop sekaligus. Sehingga teleskop secara efektif bekerja bersama seperti satu piringan raksasa.
Maka dari itu, EHT banyak melakukan observasi terhadap gelombang radio. Tahun 2017, EHT mengobservasi delapan stasiun yakni di Amerika Utara, Hawaii, Eropa, Amerika Selatan dan Kutub Selatan.
Ketika langit cukup jernih untuk diamati, para peneliti mengarahkan teleskop di setiap observatorium EHT ke sekitar lubang hitam supermasif dan mulai mengumpulkan gelombang radio.
Gelombang radio yang berasal dari setiap bit cincin itu harus menempuh jalur yang sedikit berbeda untuk mencapai masing-masing teleskop. Gelombang radio ini dapat saling mengganggu, namun terkadang memperkuat satu sama lain.
Lalu, pola interferensi yang dilihat oleh masing-masing teleskop tergantung pada bagaimana gelombang radio dari berbagai bagian cincin berinteraksi ketika mereka mencapai lokasi teleskop itu.
Selain itu, para peneliti membutuhkan lebih banyak data untuk mengetahui bagaimana gelombang radio lubang hitam berinteraksi satu sama lain serta menawarkan lebih banyak petunjuk tentang seperti apa lubang hitam itu.
[Gambas:Video CNN]
Satu pasang teleskop yang berjauhan dapat melihat detail yang lebih baik, karena ada perbedaan yang lebih besar antara jalur yang diambil gelombang radio dari lubang hitam ke setiap teleskop.
Para peneliti memerlukan waktu untuk mencatat data agar membentuk presisi yang baik. Maka dari itu, mereka menggunakan jam atom hidrogen, yang kehilangan sekitar satu detik setiap 100 juta tahun.
Data-data ini kemudian ditransfer ke Observatorium Haystack MIT dan Institut Max Planck untuk Radio Astronomy di Bonn, Jerman untuk diproses ke dalam jenis super komputer khusus yang disebut korelator.
Pengamatan lubang hitam EHT diharapkan dapat membantu menjawab pertanyaan seperti bagaimana beberapa lubang hitam supermasif termasuk M87 meluncurkan jet plasma terang. Serta, memahami bagaimana gas jatuh ke dalam lubang hitam dan juga dapat membantu memecahkan misteri bagaimana lubang hitam dapat tumbuh begitu cepat. (din/age)