Group Head Corporate Communications Indosat Ooredoo Turina Farouk mengatakan ekosistem menjadi titik berat permasalahan implikasi 5G di Indonesia. Ekosistem yang dimaksud yakni menyoal perangkat, kesiapan perangkat 5G, frekuensi, dan kebijakan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo).
"Masalahnya bukan di jaringan tapi di ekosistem, ekosistem itu kan bisa dari device bukan hanya network nya aja, bisa dari frekuensi sampai sekarang. Belum lagi dari pemerintah," ujarnya Turina kepada awak media di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (25/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Indosat Belum Mau Matikan Jaringan 2G |
"Kesiapan jaringan sekarang sebenarnya kita semua sudah 5G Ready. Jadi semua jaringan-jarinhan 4G yang kita sekarang lagi kita bangun, kita sebenarnya sudah 5G Ready," ungkapnya
"Sekarang itu investasinya tidak semata-mata ngomongin 5G karena kan 4G nya sendiri sebenernya 5G ready. Jadi yang kita bangun sekarang yang Capex sekitar Rp10 triliun itu kan memang 88 persen itu adalah untuk 4G yang sebetulnya itu sudah equal dengan 5G," jelasnya.
"Jadi awal 4G [tahun 2017] cuma 41 persen saat ini di 2019 sudah mencapai 80 persen dan kita tidak akan berhenti. Di 2019 akan terus mengembangkan 87 persen populasi tercover 4G," tutur Sadu.
Untuk merealisasikan target tersebut, Indosat berencana menambah 4.200 site baru demi menyiapkan jaringan 5G ang telah dilengkapi serat fiber. Saud menargetkan 30 persen site telah diselimuti serat fiber dan menambah 18 ribu BTS 4G. (din/evn)