Dilansir dari Reuters, Google mengatakan secara manual telah meninjau satu juta video 'teroris' di YouTube dalam tiga bulan pertama 2019. Google mengungkapkan bahwa telah menemukan 90 ribu video yang melanggar peraturan terorisme.
Ketua Komite Keamanan Dalam Negeri mendesak eksekutif Google, Facebook Inc, Twitter Inc dan Microsoft Corp agar melakukan pekerjaan yang lebih baik untuk menghapus konten kekerasan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemimpin sub komite intelijen dan anti terorisme Max Rose mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwaFacebook belum merespons. Twitter dan Microsoft ia katakan tidak sepenuhnya atau langsung menjawab pertanyaan pemerintah terkait anggaranterebut.
Lihat juga:Desain iPhone 11 Milik Apple Bocor |
Dilansir dari CNA, pengeluaran Google Alphabet naik beriringan dengan pendapatan. Pengeluaran perusahaan ini naik menjadi US$29,7 miliar atau sekitar Rp 423,2 triliun dan naik 16,5 persen.
Jumlah pengeluaran yang melonjak lebih cepat dari jumlah pendapatan dalam dua tahun terakhir mendapat perhatian dari investor.
Padahal jumlah pengeluaran bertambah akibat pengawasan dan peninjauan konten YouTube. Google Alphabet mengatakan bahwa ada lebih dari 10 ribu orang yang bekerja di seluruh anak perusahaan dalam peninjauan konten. (jnp/age)