Fase pertama dikenal sebagai bulan baru atau new moon atau ijtimak merupakan kondisi bulan tidak terlihat di sepanjang malam. Kemudian fase berganti pada bulan sabit setelah bulan baru atau ada juga yang menyebutnya sebagai hilal.
Fase ketiga bulan separuh kuartil pertama yang menghadap ke barat setelah waktu maghrib yang kemudian berubah ke fase baru yaitu bulan besar. Menjelang akhir bulan, tampak bulan sabit tipis yang disebut sebagai bulan tua.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Posisi hilal yang nampak 'tengkurap' atau 'terlentang' mengindikasikan bahwa matahari berada di atas sehingga hilal tenggelam lebih dulu daripada matahari. Hal ini membuat hilal hanya mungkin tampak tegak dan hilal 'terlentang'.
Ada beberapa patokan dalam menentukan hilal yakni altitude, elongation, umur bulan, fase, lag, refraksi, dan dip. Altitude merupakan besaran yang menunjukkan ketinggian objek suatu benda langit yang diukur dari horizon ke objek langit.
Lag dihitung berdasarkan selisih antara waktu terbenamnya Matahari dengan waktu terbenamnya bulan. Refraksi di sisi lain merupakan pembiasan cahaya dari suatu objek benda langit oleh atmosfer. Sementara dip merupakan efek kerendahan horizon pengamat.
Pada penetapan hilal juga dapat dilakukan melalui hisab dan rukyat sebagai metode penentu kalender Hijriah. Rukyat merupakan aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang tampak pertama kali setelah proses ijtimak (konjungsi) setelah matahari terbenam karena cahaya yang sangat redup dibandingkan matahari dan ukuran yang sangat tipis.
Rukyat dilakukan setelah terbenam matahari saat bulan di ketinggian 2 derajat, jarak sudut matahari-bulan 3 derajat atau umur bulan 8 jam menggunakan teleskop atau dengan mata telanjang. (evn)