Pengakuan Boeing pada Minggu (4/5) itu menimbulkan pertanyaan baru terkait keterbukaan perusahaan bersama regulator dan sejumlah maskapai yang membeli pesawat Boeing 737 MAX.
Boeing juga mengatakan bahwa para teknisinya menyadari bahwa sensor lampu peringatan hanya akan berfungsi jika maskapai membeli modul terpisah yang akan mengaktifkan fitur peringhatan tersebut, seperti dilansir NBC News.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di satu sisi, Boeing berdalih bahwa pesawat tersebut aman untuk terbang walaupun tanpa lampu peringatan. Meskipun lampu peringatan pada pesawat Lion Air JT 601 dan Ethiopian Airlanes ET302 tidak berfungsi namun beberapa lampu peringatan maskapai 737 MAX berfungsi.
"Masalah dengan MCAS karena tidak adanya peringatan. Sebetulnya tidak ada apa-apa jika kru di dek penerbangan yang memberi tahu Anda bahwa MCAS tidak berfungsi," kata Peter Lemme, mantan teknisi Boeing.
Sebelumnya, pesawat Lion Air PK-LQP nomor penerbangan JT-601 rute Jakarta-Pangkal Pinang jatuh di perairan Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat pada 29 Oktober 2018 silam. Pesawat nahas tersebut hilang kontak setelah 13 menit lepas landas dari bandara Internasional Soekarno-Hatta pada pukul 06.20 WIB.
Sementara maskapai Ethiopian Airlanes dengan nomor penerbangan ET 302 jatuh pada 10 Maret lalu. Pesawat yang mengangkut 157 orang itu jatuh dalam perjalanan dari Addis ke Nairobi, Kenya.
Pesawat dikonfirmasi terjatuh di dekat kota Bishoftu, 62 kilometer di tenggara ibu kota Addis Ababa. Ethiopian Airlanes meninggalkan bandara Bole di Addis Ababa pada pukul 08.38 pagi waktu setempat, sebelum kehilangan kontak dengan menara pengawas beberapa menit kemudian pada 08.44 pagi. (din/eks)