Kegiatan ini juga menyumbang 25 persen dari emisi gas rumah kaca dari pupuk dan konversi lahan. Konversi lahan ini termasuk mengubah hutan tropis untuk pertanian dan peternakan.
Ancaman berikutnya adalah eksploitasi tanaman dan hewan dari pemanenan, penebangan hutan, perburuan, memancing, perubahan iklim, polusi, dan penyebaran hewan-hewan yang bersifat invasif. Laporan IPBES menyebut hewan invasif ini telah mengurangi 20 persen keanekaragaman hayati sejak 1900.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibatnya, lebih dari satu juta spesies tumbuhan dan hewan terancam punah. Beberapa spesies bahkan diperkirakan akan musnah dalam beberapa dekade ke depan akibat ulah manusia.
Analisis dalam laporan mengatakan tanpa adanya tindakan yang dramatis untuk konservasi habitat, maka tingkat kepunahan spesies akan terus meningkat. Hal ini akan berpengaruh pada kemampuan Bumi untuk menunjang kehidupan, baik untuk memperbarui udara, tanah yang gembur, dan air yang layak minum.
Kepunahan spesies dan hilangnya habitat hidup menimbulkan banyak ancaman bagi keberlangsungan hidup manusia, salah satunya adalah perubahan iklim.
"Keanekaragaman hayati harus berada di puncak agenda global bersama dengan iklim. Kita tidak bisa lagi mengatakan bahwa kita tidak tahu," kata Executive Secretary IPBES Anne Larigauderie dalam konferensi pers di Paris, Prancis (6/5)," seperti dilansir Nature.
Laporan ini menyaring temuan dari hampir 15.000 penelitian dan laporan pemerintah, mengintegrasikan informasi dari ilmu alam dan sosial, masyarakat adat dan komunitas pertanian tradisional.
"Hilangnya spesies, ekosistem, dan keragaman genetik telah menjadi isu global dan mengancam kehidupan manusia untuk generasi berikutnya," jelas Sir Robert Watson, kepala IPBES, seperti dikutip The Independent.
Tanpa perubahan transformatif dalam sistem ekonomi, sosial dan politik dunia untuk mengatasi krisis ini, panel IPBES memproyeksikan bahwa bumi akan terus kehilangan keanekaragaman hayati utama hingga 2050 dan seterusnya.
Laporan setebal 1.800 halaman ini menjabarkan serangkaian skenario di masa depan berdasarkan keputusan pemerintah dan pembuat kebijakan lainnya, dan merekomendasikan rencana penyelamatan.
Laporan ini menyoroti aktivitas manusia telah menghancurkan alam, seperti hutan, lahan basah dan lanskap alam lainnya. Aktivitas manusia juga merusak kapasitas Bumi untuk memperbaharui udara yang dapat bernapas, tanah yang produktif dan air yang dapat diminum. (jnp/eks)