Stiker 'Barcode' di Kaca Mobil Pemicu Kemunculan BPKB Palsu

ray, CNN Indonesia | Senin, 13/05/2019 14:49 WIB
Stiker 'Barcode' di Kaca Mobil Pemicu Kemunculan BPKB Palsu Posisi stiker barcode di kaca samping mobil baru. (Foto: CNN Indonesia/Rayhand Purnama Karim JP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Stiker putih bertuliskan deretan huruf dan angka serta tanda batang yang menempel pada kaca samping belakang mobil baru berpotensi disalahgunakan orang tidak bertanggung jawab.

Direktur Marketing Astra Daihatsu Motor (ADM) Amelia Tjandra mengatakan jika stiker ini dibiarkan memicu kasus pemalsuan buku pemilik kendaraan bermotor (BPKB).

"Takutnya informasi dalam barcode digunakan untuk pemalsuan BPKB," kata Amelia kepada CNNIndonesia.com melalui pesan singkat, Senin (13/5).


Diketahui bahwa stiker tersebut berfungsi untuk kegiatan logistik, misalnya pemindahan mobil baru dari pabrik ke dealer. Stiker itu biasa tertempel di kaca kiri atau kanan dekat pilar c.

Barcode berisi informasi mengenai nomor mesin, nomor rangka, dan warna kendaraan.

Kendati memiliki kekhawatiran tersebut, menurut Amelia hingga saat ini belum ada laporan yang diterimanya terkait penyalahgunaan tanda batang itu.

Amel juga bilang bahwa perusahaan belum membuat kebijakan yang mengharuskan stiker dicopot saat mobil sampai ke tangan konsumen.

Ia menambahkan lagi pula belum ada permintaan dari konsumennya terkait pencopotan stiker saat mobil tiba. Sebab diketahui ada beberapa konsumen yang mengeluh kesulitan melepas stiker tersebut meski mobil sudah dicuci berulang kali.

"Stiker ini masih digunakan sampai delivery dan receiving. Kami juga sampai sekarang belum ada permintaan (langsung melepas stiker barcode)," ucap Amelia.

Sementara itu Head of Brand Development and Marketing Research Suzuki Indomobil Sales (SIS) divisi roda empat Harold Donnel mengatakan bahwa stiker barcode tersebut tidak bisa disalahgunakan oleh seseorang.

Jika pun bisa, menurut Harold oknum tidak akan mendapat untung atas aksi mengambil data dari barcode.

"Setahu saya sih tidak bisa disalahgunakan. Lebih tepatnya tidak ada keuntungan untuk menyalahgunakan hal tersebut," tutup Harold.

[Gambas:Video CNN] (ryh/mik)


BACA JUGA