"Reaksi saya terhadap permintaan Hughes adalah kami tidak akan melakukan itu [memecah perusahaan] untuk memperbaiki kondisi perusahaan," ungkap Zuckerberg saat diwawancara France 2 seperti dilansir CNBC.
Dalam tulisan opininya yang dimuat The New York Times, Hughes mengatakan permintaannya itu berkaca pada Pemilu AS 2016 yang membuat Rusia memanfaatkan Facebook untuk menyebar kampanye hoaks, ditambah skandal pencurian data yang melibatkan Cambridge Analytica.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Zuckerberg justru mengklaim merogoh kocek lebih besar dari seluruh pendapatan perusahaan ketika go public awal dekade ini.
"Anggaran kami untuk keamanan tahun ini lebih besar. Kami telah mampu membangun bisnis yang sukses yang bisa mendukung besarnya basis data pengguna," ucapnya.
Kandidat presiden dari Partai Demokrat Kamala Harris mengatakan bahwa para pejabat AS harus mempertimbangkan untuk memecah Facebook yang kini menjadi perusahaan media sosial terbesar di dunia. Harris melontarkan usulan tersebut karena mengganggap Facebook telah menjelma menjadi entitas yang tidak bisa diatur.
Facebook dinilai lebih memprioritaskan pertumbuhan bisnis daripada melindungi kepentingan pengguna, terutama terkait kebijakan privasi dan keamanan.
"Saya pikir, ya, kita harus mempertimbangkannya dengan serius (untuk memecah Facebook)," kata Harris dalam wawancara dengan CNN. (evn)