Tapi tak seperti permukaan anggur yang lentur, permukaan Bulan sangat rapuh. Sehingga permukaannya berkerak dan pecah ketika Bulan menyusut. Akibatnya terjadi "retakan thrust"dimana satu bagian kerak Bulan melesak ke atas bagian lainnya.
Penyusutan ini diperkirakan terjadi akibat mendinginnya bagian interior Bulan. Bulan diperkirakan telah menyusut 50 meter dari ukuran aslinya beberapa ratus juta tahun lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Retakan pada permukaan Bulan (Dok. NASA via www.nasa.gov) |
"Beberapa gempa ini bisa sangat kuat, sekitar lima skala Richter."
Kesimpulan Watter itu berdasarkan pengamatan data empat seismograf yang dipasang di Bulan oleh astronaut pada misi Apollo 11, 12, 14, 15, dan 16. Data tersebut lantas dimasukkan ke dalam program algoritma matematika. Hasilnya bisa digunakan untuk memperkirakan lokasi gempa Bulan.
Seismograf yang dipasang pada misi Apollo 11 hanya bertahan tiga minggu. Sementara empat sensor lainnya berhasil mencatat 28 gempa kecil sepanjang 1969 hingga 1977. Besaran gempa ini sekitar 2 sampai 5 skala Richter.
Lihat juga:Calon Turis ke Bulan 'Bangkrut' |
LRO telah memotret permukaan Bulan sejak 2009. Foto itu akan digunakan untuk membandingkan wilayah retakan dari waktu berbeda untuk memastikan ada bukti dari hasil gempa bumi yang terjadi baru-baru ini.
Tak cuma Bulan yang menyusut, planet Merkuri pun menunjukkan penyusutan serupa. Hal ini juga ditandai dengan adanya retakan-retakan pada planet itu. Kecepatan penyusutan Merkurius bahkan lebih cepat dari Bulan. (eks/eks)
Retakan pada permukaan Bulan (Dok. NASA via www.nasa.gov)