Ahli fisika dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Husin Alatas mengatakan hal itu mengacu pada film-film science fiction (sci-fi) seperti Star Trek, Star Wars, Interstellar, dan film-film seri Avengers. Teknologi di film-film tersebut kemudian menjadi kenyataan, mulai dari alat penerjemah universal dan pistol laser dalam film Start Trek dan Star Wars hingga jam tangan pintar.
"Jadi film-film itu imajinatif, nanti sains yang akan menjelaskannya secara ilmiah. Banyak kemajuan sekarang didorong oleh para seniman yang sekarang jadi kenyataan," ujar Husin saat acara diskusi The Science Behind The Avengers Endgame di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Selasa (14/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan terkadang peneliti kurang imajinatif lantaran terkungkung dengan hukum dan teori yang ada. Oleh karena itu menjadi tugas seniman atau penulis naskah film untuk berimajinasi secara liar demi menghasilkan ide-ide inovatif.
"Indonesia perlu ada sinergi antara seni dan sains. Kadang sains seperti anti seni dan sains anti seni. Padahal tidak. Negara maju sudah menyadari dua hal itu saling melengkapi. Saya bisa katakan sains itu adalah seninya berpikir," tandasnya.
Husin mengatakan Albert Einstein pernah bilang bahwa imajinasi lebih kuat daripada pengetahuan. Mengutip buah pikiran Einstein, Husin mengatakan jika pengetahuan terbatas. Sementara imajinasi mencakup seluruh dunia untuk merangsang kemajuan dan melahirkan evolusi.
[Gambas:Video CNN] (jnp/evn)