Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana menjelaskan, dalam konteks mudik keluarga, sering kali yang berperan sebagai asisten adalah istri pengemudi.
"Fungsinya memandu, mengingatkan pengemudi untuk lebih selamat atau waspada selama perjalanan," kata Sony di fasilitas Daihatsu Indonesia di Sunter, Jakarta, Minggu (26/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Sony, semua hal yang ingin disampaikan dari persepektif co-driver harus secara lugas, namun tidak membuat panik pengemudi dan juga seisi kabin lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sony memahami duduk sebagai penumpang depan terkadang membuat seseorang menjadi lebih panik. Sebagai seorang asisten, terlebih untuk perjalanan jauh, istri harus tetap tenang dan tak boleh memperlihatkan itu.
"Itu risikonya. Dan dia (asisten) harus melakukan fungsinya, tidak bikin panik, tapi mengingatkan. 'Mas nanti ada ini, hati-hati. 'Kecepatan sudah terlalu tinggi, kurangin'. 'Di depan ada mobil besar, jangan dekatin', nah fungsinya dia begitu," kata Sony.
Hal lain yang mesti dipahami buat asisten pengemudi, yakni jangan tidur selama perjalanan. Asisten dikatakan sama pentingnya dengan pengemudi selalu waspada di perjalanan.
"Boleh saja ngobrol, asal pembahasannya yang ringan-ringan. Namanya emak-emak. Soalnya kalau suami-istri pasti berpotensi (obrolannya) ke arah yang lebih tajam," kata Sony.
Sony menambahkan sebelum memulai perjalanan ada baiknya antara sopir dan asistennya membuat list mengenai hal apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Ini perlu untuk mencegah keributan antar keduanya.
"Ini perlu, misalnya dalam perjalanan tidak boleh nyalip dari kiri, tidak boleh nyalip lewat bahu jalan. Harus komitmen. Ingat fungsi asisten itu mengingatkan dan memandu," kata Sony. (ryh/fea)