Ruby menjelaskan para peretas memilih metode pembayaran dengan menggunakan mata uang kripto. Pasalnya mata uang kripto ini bagi peretas lebih sulit dilacak.
"Kalau mereka lebih memilih untuk dibayar melalui bitcoin karena sulit terlacak. 13 juta data itu dihargai Rp20 juta dan mereka lebih memilih untuk dibayar lewat Bitcoin," ujar Ruby saat diskusi Perlindungan Data Pribadi (PDP) di kantor Badan Siber Sandi Negara, Jakarta Selatan, Senin (27/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kebocoran data juga terjadi di level bawah seperti informasi data alumni, termasuk kebocoran data dari Yahoo. Beberapa tahun belakangan portal online di Indonesia mulai diserang mungkin karena pengguna startup tinggi," ujar Ruby.
Akan tetapi, Ruby kecewa ketika pemerintah percaya saat e-commerce tersebut mengatakan tidak ada data yang bocor. Padahal pemerintah menurut Ruby bisa melakukan digital forensik untuk membuktikan apakah data tersebut bocor atau tidak.
"Dari situ, menurut analisis yang lebih dalam, tidak hanya data pribadi masyarakat, kami mengkhawatirkan adanya masalah keamanan nasional di dalam bila ada data-data pihak tertentu yang tadinya harusnya rahasia dan tidak terpublikasikan dan ternyata ada datanya di situ," ujar Ruby.
[Gambas:Video CNN] (jnp/age)