Daftar Nikah dan Cerai Merger Otomotif Asal Eropa

fea, CNN Indonesia | Jumat, 07/06/2019 13:06 WIB
Daftar Nikah dan Cerai Merger Otomotif Asal Eropa Logo Renault. (Foto: REUTERS/Eric Gaillard)
Jakarta, CNN Indonesia -- Niat merger Fiat Chrysler Automobiles (FCA) dan Renault bukanlah upaya pertama penyatuan produsen otomotif yang melibatkan merek asal Eropa. Sebelumnya sudah ada nama-nama yang telah berhasil dinikahkan dan sebagian telah memutuskan untuk bercerai.

Dilansir dari AFP, berikut daftar nikah dan cerai merger otomotif asal Eropa sejak 1990-an:

DaimlerChsysler AG


Pada 1998, grup otomotif asal Jerman, Daimler, melalui anak perusahaannya, Mercedes-Benz, memutuskan mengambil alih Chrysler asal Amerika Serikat yang lagi bermasalah. Setelah diakuisisi DaimlerChrysler terbentuk.

Pada awalnya merger ini dibentuk seimbang, namun Daimler menginvestasikan modal US$36 juta dan kemudian menjadi pihak dominan.

Pada 2005, kombinasi mulai menguap. Bos Daimler Juergen Schrempp mundur dan penggantinya, Dieter Zetsche, mengumumkan pada Februari 2007 bahwa Daimler akan menjual kepemilikan sahamnya di Chrysler. Tiga bulan kemudian, 80 persen saham Daimler dijual.

Fiat dan General Motors

Pada akhir 1990-an, merek asal Italia, Fiat, yang dikontrol keluarga Agnelli sedang menderita dan berusaha mencari rekanan. Pada 2000, Fiat menyetujui penjualan 20 persen sahamnya ke produsen besar asal Amerika Serikat, General Motors (GM).

Namun situasi Fiat tidak kunjung membaik. Pada Februari 2005, GM memutuskan menebus perjanjian itu dengan 1,55 miliar euro untuk membatalkan opsi pembelian sisa ekuitas Fiat.

Pada pertengahan 2009, setelah krisis finansial, Fiat yang sudah membaik mengakuisisi 20 persen saham Chrysler setelah disetujui Presiden Amerika Serikat saat itu, Barack Obama. 

Pada 21 Januari 2014, Fiat sepenuhnya memiliki Chrysler. Pada 12 Oktober 2014 Fiat dan Chrysler melebur menjadi FCA.

Renault-Nissan

Pada 1999, Renault mengakuisisi 36,8 persen saham Nissan yang lagi di ujung tanduk kebangkrutan. Renault juga membeli merek asal Rumania, Dacia.

Bos Renault, Carlos Ghosn, telah berhasil menjadi perekat serta menjadi pemimpin Renault dan Nissan pada 2005. Di lain sisi, Dacia berkembang dari keterpurukan dan menjadi salah satu merek entry level yang dikenal di Eropa.

Pertukaran pemegang saham membuat menjadikan Renault memiliki 43 persen saham Nissan. Sedangkan Nissan mempunyai 15 persen saham Renault.

Pada 2017, Nissan mengontrol penuh Mitsubishi Motors. Pada 2018, aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi menjual sekitar 10,8 juta unit mobil.

Volvo dengan Ford dan Geely

Pada 1999, saat Ford menjadi produsen otomotif paling sehat di Amerika Serikat, mereka membeli Volvo asal Swedia dengan nilai US$6,45 miliar.

Beberapa tahun kemudian, Ford mendapat kompetisi kuat dari merek Jepang serta terbentur kenaikan harga minyak dan baja. Ford yang kesulitan akhirnya memutuskan menjual Volvo.

Pada Desember 2009, Ford menjual Volvo pada pihak China, grup Geely, dengan nilai US$1,8 miliar.

PSA dan Opel

Pada 2017, produsen asal Prancis, PSA, yang memiliki Peugeot, Citroen, dan DS mengatakan bakal membeli anak perusahaan GM di Eropa, yakni Opel dan Vauxhall, untuk menciptakan grup terbesar kedua di Eropa, di belakang Volkswagen.

Opel asal Jerman, yang untuk pertama kalinya menjadi perusahaan menguntungkan pada 2018, mulai ekspansi internasional dan mengatakan bakal kembali ke Rusia setelah tiga tahun absen.

Merek asal Inggris, Vauxhall, kini sedang berjuang di tengah ancaman Brexit dan menurunnya permintaan mobil diesel. (fea)