Gaet Perusahaan China, Toyota Percepat Produksi Mobil Listrik

Reuters, CNN Indonesia | Senin, 10/06/2019 23:43 WIB
Gaet Perusahaan China, Toyota Percepat Produksi Mobil Listrik Toyota C-HR Hybrid mulai dijual di Indonesia. (Foto: CNN Indonesia/Rayhand Purnama Karim JP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Toyota menargetkan setengah dari penjualan globalnya merupakan kendaraan listrik pada 2025, atau lima tahun lebih cepat dari jadwal, yaitu 2030. Tingginya permintaan mobil listrik menjadi alasan Toyota merevisi target awal yang pernah mereka tetapkan.

Mengutip Reuters, Senin (10/6), Toyota bakal memanfaatkan kerja sama dengan beberapa perusahaan asal China untuk mempercepat proyek ambisius mereka.

Wakil Presiden Eksekutif Toyota Motor Corps (TMC) Shigeki Terashi mengatakan pihaknya saat ini mendapati derasnya permintaan mobil bertenaga listrik, bukan bensin.


Selain itu Terashi menilai ketatnya regulasi emisi pada negara-negara di dunia membuat pihaknya terpikir memperbanyak produksi baterai lithium-ion daripada membuat mobil bermesin konvensional.

"Kami menganggap diri kami sebagai pembuat baterai kendaraan listrik. Tetapi mungkin ada jarak antara jumlah baterai yang dapat kami hasilkan, dan jumlah baterai yang kami butuhkan," kata Terashi.

Toyota disebut dia akan memanfaatkan kerja sama dengan Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL) asal China dan pembuat mobil listrik China BYD Co Ltd dalam rangka pengadaan baterai. Toyota juga sebelumnya sudah menggandeng Panasonic untuk pengembangan baterai lithium-ion prismatik.

Terashi juga menyebut bahwa Toyota telah membuat mobil kecil dua kursi listrik untuk perjalanan jarak pendek dengan kecepatan maksimum 60 km per jam dan jangkauan 100 km. Semua itu bisa ditempuh dengan sekali pengisian daya baterai.

Sebelumnya Toyota juga diketahui telah meneken kesepakatan dalam industri otomotif yang lebih bersih bersama Subaru untuk mengembangkan Sport Utility Vehicle (SUV) listrik. Kolaborasi itu dibentuk agar biaya pengembangan dan produksi semakin ringan.

Kendati begitu, Terashi mengatakan kerja sama yang sudah diteken pada pekan lalu bersama Subaru itu tidak akan mengubah keyakinan Toyota mengenai kendaraan hidrogen.

"Kami belum mengubah kebijakan kami terhadap EV baterai. Kami tidak mengalihkan fokus kami untuk memprioritaskan EV baterai, kami juga tidak meninggalkan strategi FCV (fuel cell vehicle- kendaraan hidrogen) kami," ucapnya.

Diketahui perusahaan ini juga sangat 'ngotot' masuk ke pasar mobil hibrida. Mereka masih menilai bahwa mobil dua mesin tersebut sangat cocok sebagai alternatif transisi di mana saat ini belum banyak infrastruktur pengisian daya baterai kendaraan listrik, terutama pada negara-negara berkembang. (ryh/mik)