Prancis Klaim Tak Berniat Gagalkan Merger Renault-Fiat

AFP, CNN Indonesia | Jumat, 14/06/2019 14:11 WIB
Prancis Klaim Tak Berniat Gagalkan Merger Renault-Fiat Ilustrasi. (Foto: REUTERS/Eric Gaillard)
Jakarta, CNN Indonesia -- Petinggi Renault mengkritik pemerintah Prancis karena dianggap telah menggagalkan merger antara dua perusahaan Renault dan Fiat Chrysler Automobiles (FCA). Penggabungan kedua induk ini dinilai begitu 'rumit' karena adanya kepentingan politik Pemerintah Prancis.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Keuangan Prancis Bruno Le Maire menegaskan bahwa kegagalan kesepakatan tersebut bukan salah pemerintah.

"Kami tidak menggagalkan 'pernikahan' antara Renault dan Fiat," kata Le Maire kepada radio France Info, sebelum pertemuan dengan ketua Renault Jean-Dominique Senard dilansir AFP, Kamis (13/6).


Ia mengatakan kepada para pemegang saham di RUPS Renault pada Rabu (12/6), dewan direksi yang mewakili negara Prancis, dengan kepemilikan 15 persen saham di Renault, menuntut untuk mempelajari kesepakatan kedua perusahaan.

"Kami tidak memveto proyek itu," ucap Le Maire.

"Kami hanya bertanya, setelah melihat bahwa Nissan tidak akan memberikan dukungannya (merger Renault-FCA), setelah lima hari untuk mempelajari bisnis ke depan."

Jika merger Renault-FCA berhasil, diprediksi akan menjadi produsen mobil terbesar ketiga di dunia setelah Volkswagen Grup dan Toyota. Termasuk mitra aliansi Renault, Nissan dan Mitsubishi yang juga akan menjadi raksasa di industri otomotif dunia.

Prancis memiliki 15 persen saham Renault, sedangkan Renault mempunyai 43 persen saham Nissan. Renault-Nissan telah menjalin aliansi sejak 20 tahun silam.

Dengan kolaborasi tersebut, memungkinkan mereka berinvestasi ke mobil listrik, sebuah perkembangan penting bagi industri di seluruh dunia demi mengatasi emisi gas buang, termasuk tantangan menghadirkan mobilitas yang canggih guna memenuhi kebutuhan konsumen di masa depan.

(mik/mik)