Faktor X merupakan penyebab kecelakaan yang datang di luar kendali pengemudi. Selain tabrakan beruntun hal itu bisa berupa cuaca ekstrem, pecah ban, dilempar batu, atau kejadian yang tidak bisa langsung diterima logika.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu menjelaskan kita sebenarnya bisa menghindar dari potensi terperangkap tabrakan beruntun bila selalu siap menjalankan sikap berkendara aman. Hal itu dimulai dari persiapan diri sendiri hingga gaya mengemudi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jusri menjelaskan pengemudi seharusnya selalu memosisikan mobilnya punya ruang dengan kendaraan lain di area depan dan samping. Teori ini dikatakan biasa disosialisasikan di negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika untuk masyarakat.
Jarak aman mobil dari mobil lainnya dikatakan tiga detik. Cara menghitungnya bisa dimulai saat mobil di depan pas melewati satu titik, misalnya plang km jalan tol atau tiang lampu, lantas tiga detik kemudian mobil kita melewati titik yang sama.
"Otak biasanya menangkap bahaya 1,5 detik, reaksinya 1,5 detik juga. Makanya disiplin jaga jarak aman. Sesuaikan lajur yang dipilih dengan kecepatan kendaraan Anda," kata dia.
Selain menjaga ada ruang untuk berhenti mendadak, Jusri memaparkan langkah lain yang harus diambil pengemudi saat memanuver kendaraannya demi menghindari tabrakan beruntun, yaitu memantau keadaan lewat spion dengan cepat.
"Kalau ingin menghindar ke kanan, ya cek spion kanan lebih dulu. Jangan main belok atau yang ada nanti malah menciptakan masalah baru," ucap dia.
Terlanjur Terjebak
Bila terlanjur dan tidak memiliki celah untuk menghindar, Jusri mengarahkan agar pengemudi berani mengambil memilih resiko yang paling kecil. Dikatakan Jusri pengemudi bisa mengambil tindakan mengarahkan kemudi ke objek lain di sekitar yang dinilai tingkat benturannya lebih ringan.
"Misalnya di kiri ada kendaraan yang sudah berhenti, atau di kanan ada pembatas jalan. Masuk saja. Tidak apa-apa ada benturan atau serempet, itu lebih baik dari pada dia terjepit," ucapnya.
Jusri menambahkan, hal yang paling penting dari teori tersebut, yakni pengemudi tidak boleh panik saat menghadapi masalah apapun di jalan raya. Selain itu Jusri juga bilang tetaplah berwaspada selagi kita mengemudi di tol, jaga konsentrasi dan tidak mudah terlena agar bisa mengantisipasi segala bentuk bahaya. (ryh/fea)