Mimpi Toyota Bangun Pabrik Baru di Arab Saudi Disebut Kandas

Reuters, CNN Indonesia | Selasa, 25/06/2019 09:07 WIB
Mimpi Toyota Bangun Pabrik Baru di Arab Saudi Disebut Kandas Ilustrasi pabrik Toyota. (Foto: CNN Indonesia/Tachta Citra Elfira)
Jakarta, CNN Indonesia -- Upaya Kerajaan Arab Saudi menyakini Toyota membangun pabrik baru di Arab Saudi dikabarkan tidak akan berjalan mulus. Raksasa otomotif asal Jepang itu disebut tidak tertarik membenamkan investasi dalam bentuk pabrik dengan alasan 'sia-sia'.

Arab Saudi telah memulai studi kelayakan sejak 2017 untuk pembangunan pabrik di Arab Saudi. Rencana ini merupakan bagian dari rencana besar Putra Mahkota Mohammed bin Salman untuk menciptakan banyak lapangan kerja bagi pemuda Saudi

Mundurnya Toyota sebagai investor di Arab Saudi diungkap empat orang sumber Toyota, mengutip Reuters, Senin (23/6).


Disebutkan sumber bahwa Toyota sudah menjalani serangkaian pembicaraan namun nihil hasil. Alasannya biaya tenaga kerja di Arab Saudi terbilang tinggi, pasar domestik kecil, dan kurangnya pasokan lokal. Hal tersebut yang membuat Toyota menghentikan mimpinya membangun pabrik di Arab Saudi.

"Tidak ada yang akan mengatakan tidak atau, berhenti sepenuhnya' ... tapi mereka dengan sopan menyampaikan bahwa mereka (Toyota) tidak tertarik," kata sumber terdekat Toyota.

Kegagalan ini mungkin bakal menjadi 'kemunduran' bagi Pangeran Mohammed pasca pembatalan penawaran saham perdana (IPO) domestik dan internasional milik negara yaitu Saudi Aramco, dan dugaan keterlibatannya dalam pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi yang menodai citra kerajaan.

Sementara itu membuat kesepakatan dengan Toyota pada 2020 untuk pembuatan pabrik mobil menjadi target utama dalam strategi industri nasional Arab Saudi dalam upaya mengurangi ketergantungan pada minyak, dengan mencoba membangun industri otomotif.

Pihak Toyota yang dimintai tanggapan seputar diskusi internal bersama Arab Saudi sampai saat ini enggan berkomentar. Begitu juga dengan Kementerian energi, industri, dan sumber daya mineral Arab Saudi yang memilih diam terkait kondisi terbaru tersebut.

Langkah ke depan yang sudah dirancang salah satunya menciptakan 1,6 juta pekerjaan manufaktur dan logistik pada 2030. Pangeran Mohammed berkeinginan melokalisasi setengah dari produksi kendaraan dan senjata impor, yang diperkirakan akan menghasilkan pengeluaran hingga US$100 miliar oleh entitas dan konsumen pemerintah Saudi pada 2030.

Sedangkan di bawah kesepakatan yang ditandatangani Toyota pada Maret 2017, perusahaan itu sepakat melakukan studi kelayakan untuk proyek industri dengan membuat kendaraan dan suku cadang mobil.

Dua sumber yang mengetahui masalah ini mengatakan Toyota membuat kesimpulan setelah melangsungkan penelitian dan negosiasi. Hasilnya bahwa Arab Saudi perlu memberikan subsidi besar agar proyek itu dapat berjalan.

"Mereka menemukan bahwa biaya produksi akan sama dengan negara lain hanya jika ada insentif pemerintah 50 persen. Meski begitu, mereka tidak yakin itu akan menguntungkan," ucap seorang sumber. (ryh/mik)