Astra Otoparts Ungkap Proyek Baterai Motor Listrik

fea, CNN Indonesia | Selasa, 25/06/2019 20:54 WIB
Astra Otoparts Ungkap Proyek Baterai Motor Listrik Motor listrik Viar. (Foto: Dok. Vrent)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemegang merek baterai (aki) GS Astra di Indonesia, Astra Otoparts, mengungkap sedang mengerjakan 'beberapa proyek' terkait baterai listrik yang dinaungi pemikiran produksi lokal.

Menurut Direktur Astra Otoparts Yusak Kristian, proyek itu dilakukan setelah perkenalan Honda PCX Electric. Motor listrik itu telah dikenalkan oleh Astra Honda Motor pada 31 Januari. Skutik listrik berbasis PCX 150 konvensional ini belum dijual umum melainkan hanya disewakan ke kalangan terbatas.

Astra Otoparts dan AHM merupakan anak perusahaan grup otomotif raksasa di Indonesia, yakni Astra International. Astra Otoparts mengklaim saat ini sebagai penyuplai baterai OEM (Original Equipment Market) terbesar di dalam negeri dengan penguasaan pasar di atas 50 persen.


Yusak menjelaskan proyek tersebut merupakan kajian tentang perilaku pasar terhadap kendaraan listrik. Menurut dia saat ini ada banyak pendapat berbeda tentang pengembangan kendaraan listrik dan butuh dipelajari lebih lanjut.

"Ada beberapa proyek terkait itu tapi kami belum bisa ungkap hari ini," kata Yusak di Jakarta, Senin (24/6).

"Tergantung dari perkembangan. Hari ini biaya baterai terlalu tinggi sehingga akan membuat kendaraannya menjadi mahal, jadi kami akan melihat teknologi bergerak ke mana sehingga nantinya akan memulai meninggi di tahun berapa," ucap Yusak lagi.

Yusak bilang, prinsipal merek baterai GS Astra yang dijual Astra Otoparts, yaitu Japan Storage Battery Co. Ltd, sudah memiliki kerja sama dengan produsen untuk menyuplai produk OEM komponen kendaraan listrik.

100 Persen Beda

Yusak bilang baterai kendaraan yang diproduksi Astra Otoparts di dalam negeri saat ini beda total dengan baterai khusus untuk kendaraan listrik. Dia menyebut material inti baterai sekarang adalah Lead Acid, sedangkan buat baterai kendaraan listrik membutuhkan lithium-ion.

Perbedaan itu bakal menghadirkan skema bisnis baru bila baterai kendaraan listrik ingin diproduksi di Indonesia, termasuk juga soal penyuplai bahan mentah. Yusak menyebut keputusan produksi lokal tergantung prinsipal, namun keinginan itu ada dalam benak Astra Otoparts.

"Tergantung dari prinsipal geraknya ke mana. Belum tahu (produksi indonesia). Kalau ditanya apakah Astra Otoparts punya rencana ke arah sana, tentu saja iya karena kami melihat tren di pasar hari ini," jelas Yusak. (fea/mik)