Saber, 'Malaikat Pelindung' Pengendara dari Ranjau Paku

Febri Ardani, CNN Indonesia | Selasa, 25/06/2019 17:27 WIB
Saber, 'Malaikat Pelindung' Pengendara dari Ranjau Paku Ranjau paku tak mengenal korbannya. (Foto: CNN Indonesia/Djonet Sugiarto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hampir sembilan tahun lamanya relawan yang tergabung dalam komunitas Sapu Bersih (Saber) kucing-kucingan dengan sindikat penyebar ranjau paku di Jakarta. Upaya mereka masih jauh dari tuntas, namun hati nurani terus menggerakkan kaki dan tangan ikhlas tanpa henti menjaga Anda dari bahaya kecelakaan lalu lintas.

Cerita Saber dimulai dari warga Daan Mogot, Jakarta Barat, bernama Rohim. Pada 2010, dia sambil mengayuh sepeda ontel memperhatikan fenomena keberadaan paku tidak kasatmata berserakan di jalanan.

Penampakan paku di lantai tempat kendaraan berlalu lintas tidak masuk logika, apalagi jumlahnya sangat banyak dan menyebar di berbagai titik. Barang 3 - 5 cm dengan ujung runcing dan kepala berbentuk pipih tajam itu merupakan sumber utama kejadian kebocoran ban di lokasi.


Siswanto, warga Daan Mogot lainnya, awalnya mengerutkan dahi saat melihat Rohim sering menunduk di jalanan. Belakangan dia tahu Rohim memungut paku menggunakan tangan.

"Awalnya saya liatin, besok sore ketemu lagi dengan pak Rohim, saya penasaran, terus saya panggil. Dia pakai safari, saya kira petugas," ucap Siswanto, saat ditemui di Jakarta, Jumat (21/6).

Sejak pertemuan itu, perbincangan soal fenomena ranjau paku intens dilakukan keduanya sampai akhirnya membentuk Saber pada 10 Oktober 2010. Saber lantas diresmikan pada Agustus 2011 dengan anggota awal hanya empat orang.

Rohim dan Siswanto punya ketertarikan yang sama, yakni memperhatikan fenomena ranjau paku. Siswanto bilang sempat selama tujuh bulan mengamati lokasi penyebaran di Daan Mogot. Setelah estafet membersihkan paku di jalanan ditemukan bahwa jumlahnya tidak pernah berkurang.

Menurut dia penyebaran paku dilakukan sejak pukul 06.00 dan bisa berlangsung setiap dua jam sepanjang hari. Siswanto mengetahui pola ini sebab tidak pernah berhenti memantau situasi.

Pada suatu waktu, Rohim dan Siswanto bisa membekuk salah satu pelaku penyebar ranjau paku, kemudian dibawa ke pos RT. Dari keterangan pelaku diketahui sindikat ranjau paku berasal dari pebisnis tambal ban.

Modus yang dilakukan pelaku yakni menyimpan paku di dalam kotak korek api. Paku itu dikatakan sudah diwarnai hitam biar tidak kelihatan di jalanan.

"Kami bawa ke pos RT, satu orang, kami bertiga. Setelah itu lalu orang saya bawa ke pak RT, saya taro di mobil saya, orang itu mau dibakar (warga). Ramai sekali waktu itu," kata Siswanto.

"Saya tanya orang tambal ban mana? Jembatan gantung. Bosmu siapa? Warteg. Memang mengaku orang tambal ban, dia anak buahnya dan tidak hanya dia saja. Cuma pas yang apes dia," ucap Siswanto lagi.

Dipahami Siswanto, penyebar paku memiliki jaringan sindikat tersendiri. Pelaku dibayar oleh bos dan titik penyebarannya bisa diubah-ubah sesuai 'kondisi pasar'.

Kata dia, bila satu lokasi sudah banyak dapat mangsa, maka penyebaran digeser ke lokasi lainnya. Bos itu disebut bisa punya 6 lokasi tambal ban yang butuh pemerataan pendapatan.

"Kami kan hapal orang-orangnya. Kan orang-orang seperti itu kelihatan banget wajahnya tambal ban yang bener dan jahat. Kalau tidak jujur pasti ketakutan saja, melihat kami seperti musuh. Kalau jujur yang enggak punya dosa biasa saja enggak ada rasa takut," ucap Siswanto.

Siswanto mengaku pernah melakukan dua kali penangkapan di Daan Mogot, selain itu Saber juga pernah membekuk pelaku lainnya di kawasan Roxy, Jakarta Barat. Semua pelaku akhirnya berurusan dengan pihak kepolisian.

Pekerjaan Tak Pernah Selesai

Saat ini Saber memiliki 33 relawan, namun bila beroperasi penuh menyapu ranjau paku bisa mencapai lebih 40 orang. Masing-masing relawan punya area kerja masing-masing di berbagai wilayah Jakarta biar memaksimalkan penyapuan ranjau paku.

Setelah mengerti benar soal sindikat ranjau paku, Saber memutuskan melawan. Siswanto bilang relawan tim Saber bekerja menyapu ranjau paku sepanjang hari, mulai subuh hingga penggantian hari.

Bahkan ketika berangkat dan pulang kerja, relawan Saber sering menunduk sambil memindai ranjau paku.

Menurut Siswanto, jam kerja Saber dimulai dari subuh hingga pukul 07.00 WIB. Setelah itu penyapuan dilakukan estafet sampai pukul 09.00 WIB, siang hari, dan dimulai lagi pukul 18.00 WIB.

Pilihan waktu itu sengaja ditetapkan demikian agar bisa membantu warga Jakarta bebas ban bocor saat berangkat dan pulang kerja.

"Kita kan juga pengendara motor, sakitnya seperti apa kalau kena paku. Saya membayangkan diri saya sendiri. Saya kena paku enggak satu dua kali, belasan kali. Duit kadang-kadang pas-pasan, kadang pulang malam, didorong-dorong, kadang duit ga ada. Kami berpikir ke situ, mungkin saudara saya juga yang kena," ujar Siswanto.

Kondisi penyapuan ranjau paku yang dilakukan Saber seperti 'mengejar ekor sendiri', sebab sampai detik ini tak pernah usai. Meski begitu pada tahun ini kondisi penyebaran disebut Siswanto sudah tidak separah 2010.

Alat Kerja

Saber membuat sendiri alat kerja penyapu ranjau paku yang semuanya menggunakan magnet. Setidaknya ada tiga alat yang sudah ditemukan efektif, yakni magnet komponen speaker bekas, magnet berbentuk koin, dan alat seperti tongkat pel hasil inovasi buatan tangan.

Tongkat pel itu bisa membentang mulai dari 40 cm sampai 150 cm. Barang ini dibuat dari bearing roda motor sebagai roda yang dirangkai dengan kumpulan magnet.

"Saya yang desain semua alatnya, saya potong, saya las, ini inovasi. Waktu itu enggak ada lampunya jadi dilindas mobil, kalau malam musim hujan. Saya pernah kasih lampu sepeda pakai baterai kecil, ditabrak juga, kena hujan mati. Akhirnya saya kasih lampu LED lalu dikasih aki, sama lampu strobo, ini modalnya jutaan uang sendiri semua," ungkap Siswanto.

Kepala Sobek Sampai Patah Tulang

Pekerjaan Saber bukannya tanpa risiko, kehadirannya bisa dianggap ancaman buat 'mata pencaharian' bisnis tambal ban. Dilihat sinis, cekcok mulut, diusir, dan bahkan diancam sering didapat tim Saber saat beroperasi.

Bukan hanya itu, Siswanto juga mengatakan Rohim pernah tertabrak motor ketika menyapu ranjau, belakang kepalanya sampai perlu dijahit. Anggota Saber lainnya ada pula yang tertabrak sampai patah tulang hingga butuh pengobatan Rp80 juta.

"Sebenarnya mencari relawan sangat susah, bilamana mau gabung monggo cuma ya harus dengan kemauan tinggi karena tidak ada yang bayar, semuanya relawan. Setidaknya kalau mau gabung harus bilang keluarga, karena ya ada risiko tertabrak itu tadi," ucap Siswanto.

Kendati banyak kendala dan keterbatasan, Siswanto mengatakan operasi Saber tidak akan berhenti. Dia mengaku membersihkan sindikat ranjau paku tidak bisa dilakukan sendirian oleh Saber, maka itu dia mengharapkan semua lapisan masyarakat bisa membantu melakukannya. (fea/mik)