Salah satu gambar diambil oleh astronot Ekspedisi 59 di Stasiun Luar Angkasa Internasional pada pagi hari saat terjadi letusan.
Gunung berapi yang sebagian besar tidak aktif meletus untuk pertama kalinya dalam hampir 100 tahun pada pukul 4 pagi waktu setempat. Letusan ini mengirimkan awan gumpalan vulkanik tebal 13 hingga 17 kilometer di atas permukaan laut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sungguh gambar yang spektakuler," Simon Carn, seorang ahli vulkanologi di Michigan Tech, mengatakan dalam pernyataan NASA.
Letusannya yang baru-baru ini mengejutkan, dan satelit telah melacak abu yang naik dari gunung berapi, karena dapat menimbulkan bahaya bagi pesawat, menurut pernyataan NASA.
Satelit juga telah melacak pergerakan gas vulkanik - Raikoke menghasilkan segumpal belerang dioksida yang terkonsentrasi, yang bergerak ke timur saat tersapu ke arah badai di Pasifik Utara.
Carn menunjukkan bahwa gas beracun mungkin telah mencapai stratosfer, lapisan atmosfer kedua di Bumi.
"Kegigihan sejumlah besar SO2 selama dua hari terakhir juga menunjukkan injeksi stratosfer," katanya dalam pernyataan itu. (age)