Kepala BSSN Hinsa Siburian menjelaskan perang kasat mata ini adalah perang informasi dan propaganda, perang ekonomi, hingga serangan siber.
"Sekarang ini perang generasi kelima, yakni perang informasi siber. Jadi sekarang yang diserang itu tidak dengan bom atau peluru. Contoh serangan misalnya meretas PLN sehingga listrik di Indonesia lumpuh," kata Hinsa dalam acara peluncuran Gov-CSIRT di Jakarta Utara, Rabu (10/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perang generasi ketiga adalah perang dengan senjata lintas cakrawala dan teknologi mutakhir seperti bom atom, peluru kendali, hingga drone.
Perang Generasi Kelima
Mengutip dari ahli strategi perang Sun Tzu, Hinsa mengatakan bahwa perang terjadi setiap saat. Kutipan Sun Tzu tersebut, bagi Hinsa cocok apabila dikaitkan dengan konteks perang generasi kelima yang terjadi setiap saat.
"Tiap detik itu ada serangan siber ke Indonesia. Setiap hari adalah perang dalam konteks siber. Data ketika disimpan dalam data center atau jaringan itu bisa diserang oleh pihak asing," ujar Hinsa.
Hinsa mengatakan baru-baru ini juga terjadi perang generasi kelima di Indonesia, perang tersebut menggunakan hoaks yang mengancam kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). NKRI tercermin dari sila ketiga Pancasila.
"Pancasila itu pusat kekuatan Indonesia. Jadi perang generasi kelima itu langsung menusuk pusat kekuatan Indonesia," kata Hinsa.
[Gambas:Video CNN] (jnp/age)