Analisis

Di Balik Suntikan Dana ke Gojek-Grab oleh Raksasa Otomotif

Rayhand Purnama, CNN Indonesia | Kamis, 11/07/2019 16:03 WIB
Di Balik Suntikan Dana ke Gojek-Grab oleh Raksasa Otomotif Ilustrasi taksi online. (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Fenomena bisnis transportasi online di Indonesia bak 'gula' bagi sejumlah perusahaan otomotif. Dalam beberapa bulan terakhir banyak merek otomotif 'merapat' ke perusahaan transportasi berbasis digital yang dinilai sangat menjanjikan.

Ada dua sasaran empuk bagi pabrikan otomotif, yaitu Gojek dan Grab di tengah pertarungan bisnis otomotif di Indonesia yang semakin ketat.

Ekonom sekaligus Kepala Kajian Makro Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) UI, Febrio Kacaribu melihat hal itu merupakan sesuatu yang wajar terjadi dalam dunia bisnis.


Menurut dia, pelaku industri otomotif sudah menyadari bahwa dunia akan berubah dalam 10 tahun ke depan, begitu juga pola bisnis otomotif. Saat ini digitalisasi sedang berkembang, sehingga pabrikan otomotif harus berkecimpung di dalamnya melalui perusahaan yang sudah lebih dahulu menguasai di bidangnya.


Febrio mengatakan cara mudah namun tidak murah ini yaitu berperan sebagai investor ketimbang membentuk ekosistem sendiri. Dengan begitu praktis perusahaan otomotif dinilai ingin menikmati kesuksesan teknologi dari masing-masing perusahaan transportasi online.

"Sebenarnya melihat peluang karena ke depan transportasi akan mengandalkan teknologi dan terdigitalisasi. Mungkin bukan secara langsung seperti masalah produksi mobilnya, tapi investasi kepada sistem transportasi masa depan," kata Febrio melalui telepon, Rabu (10/7).

Investasi terbaru kepada perusahaan transportasi online adalah Mitsubishi Motor Corporations. Merek otomotif asal Jepang itu mengumumkan menanamkan investasi ke Gojek.

Chairman of Mitsubishi Motors Osamu Masuko menegaskan investasi ini membuka kesempatan berbagai layanan mobilitas baru.

"Kami percaya bahwa akumulasi pengetahuan (dari kerja sama ini) terhadap layanan mobilitas baru yang menyebar dengan cepat di kawasan Asia Tenggara dan peluang untuk memasuki pasar akan berkontribusi pada pertumbuhan Pasar kami di Asia Tenggara pada masa depan," ujar Masuko.

Jauh sebelum Mitsubishi, grup otomotif Astra Internasional juga sudah menyuntikkan dana ke Gojek. Nilai investasi Astra yang dikucurkan bertahap mencapai US$250 juta.

Di samping itu Grab sebagai pesaing Gojek juga sudah mengumpulkan para investor kakap seperti Toyota Motor Corporation, Hyundai Motor Company, dan Yamaha Motor. Mereka menjadi bagian dari pendanaan seri H Grab.

"Mereka ingin teknologinya. Jadi mereka ingin mengambil bagian dalam perkembangan. Jadi jangan sampai mereka (perusahaan otomotif) ketinggalan," ucapnya.

Fabio mengatakan sikap pelaku industri otomotif bukan tidak percaya diri dengan teknologi, produk, maupun kemampuan bisnis mereka. Ini lebih kepada cari celah demi kelangsungan bisnis perusahaan.

Ekosistem Gojek dan Grab yang sudah terbentuk selama ini yang dianggap mampu meningkatkan produktivitas perusahaan otomotif. Sebagai contoh bisnis Gojek dan Grab ada hubungannya dengan produk kendaraan yang menjadi alat transportasi. Belum termasuk big data 'rahasia' yang dimiliki dua perusahaan transportasi online itu.

Ekosistem itu tak hanya diinginkan masyarakat tapi juga perusahaan otomotif.

Perusahaan otomotif sebenarnya memiliki data berdasarkan hasil riset meliputi pola transportasi, mobilitas manusia di kota dan antar kota, hingga gaya hidup manusia di masa depan. Namun ini lebih ke arah keinginan konsumen dalam negeri dalam membeli kendaraan.

Terlepas dari itu, data itu kemudian bisa membuat produsen otomotif mempersiapkan strategi bisnis, bahkan menyiapkan produk kendaraan yang tepat di masa mendatang yang bisa dikolaborasikan dengan perusahaan transportasi online.

"Itu yang perlu diketahui perusahaan transportasi fisik seperti otomotif. Karena mereka harus siap untuk 10 tahun ke depan. Untuk penelitian mereka, karena komoditas paling mahal data. Kalau teknologi (otomotif) sudah advanced dan menjadi modal mereka kemana-mana saat ini," ucap Febrio.

Kepala Divisi Hubungan Investor Astra International Tira Ardianti memastikan keputusan perusahaan menjadi salah satu pihak yang mengucurkan dana investasi ke Gojek bukan tak beralasan.

Di era digitalisasi seperti saat ini menurut Tira masyarakat sudah bicara mengenai solusi mobilitas untuk alat transportasi di masa depan. Tira menyakini tidak hanya Astra sebagai grup otomotif, melainkan juga perusahaan otomotif lain pasti sependapat.

"Banyak disruption di industri, berbagai industri lah. Karena ini era digital. Semua makanya berbenah. Harus lihat tren. Dipelajari untuk perubahan seperti itu. Karena konsumen behavior berubah, kalau tidak berubah kami tertinggal," ungkap Tira.

Tira mengatakan saat ini sejumlah perusahaan pasti tengah mengokohkan pondasi bisnisnya di era digital. Era digital membuat mereka harus mengetahui lawan atau kawan, sehingga tahu di mana tempat yang tepat menanam modal.

"(Menjadi investor ke Gojek) yang kami lakukan untuk persiapkan bagaimana bisnis di masa depan. Semua lagi cari bentuk. Karena ini yang terjadi seperti giant lab," ujar Tira.

"Kami mau pelajari model bisnis seperti apa ke depan. Semua masih berproses. Disruption bukan berarti ditinggal, tapi kalau bisa melihat opportunity dan adaptasi, kalau bisa malah jadi pelopor inovasi memudahkan banyak orang," tutup Tira.

[Gambas:Video CNN] (mik)