Corbato meninggal di sebuah panti jompo di Newburyport, Massachusetts. Sang istri, Emily Corbato, mengatakan pria kelahiran 1926 itu meninggal karena komplikasi diabetes.
Hingga masa-masa terakhirnya, Corbato masih mengajar sebagai profesor emeritus di Massachusetts Institute of Technology (MIT).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Mengenal Sistem Operasi Baru Google, Fuchsia |
Saat itu, Corbato merasa komputer yang tidak terpakai atau menganggur adalah sebuah pemborosan besar. Menurutnya, dengan sistem pembagian waktu, penggunaan komputer akan dihitung dengan hati-hati sehingga bisa digunakan secara maksimal.
Corbato lahir pada 1 Juli 1926 di Oakland, California. Sang ayah, Hermenegildo Corbato, berasal dari Vilarreal dan juga seorang profesor sastra Spanyol.
Corbato, yang dikenal dengan sapaan Corby, mengenyam pendidikan sarjana di University of California, Los Angeles (UCLA) pada 1943. Tujuh bulan belajar, ia langsung direkrut oleh Angkatan Laut AS untuk dilatih sebagai teknisi elektronik.
[Gambas:Video CNN]
Saat itu, Perang Dunia II dimulai. Angkatan Laut AS membutuhkan banyak teknisi untuk mengoperasikan peralatan canggih di kapal-kapal militer. Masa-masa itu, kata Corbato, menjadikannya sangat berminat belajar dan melacak kesalahan dan debugging system pada komputer.
Corbato meninggalkan Angkatan Laut AS pada 1946, lalu melanjutkan studi sarjananya di California Institute of Technology. Ia lulus pada 1950 dengan gelar sarjana fisika dan langsung melanjutkan studi pascasarjana di MIT.
Pada 1990, Corbato mendapat A.M Turing Award, sebuah penghargaan di bidang teknologi komputer yang setara dengan Nobel Prize. (rds/agt)