Kabid Diseminasi Informasi Iklim & Kualitas Udara BMKG Hary Tirto Djatmiko mengatakan musim kemarau turut memperburuk kualitas udara karena ketiadaan hujan untuk mengurangi pengendapan polutan di udara.
"Pada musim kemarau, terutama pada hari-hari sudah lama tidak terjadi hujan, udara yang stagnan, cuaca cerah, adanya lapisan inversi suhu, atau kecepatan angin yang rendah memungkinkan polusi udara tetap mengapung di udara suatu wilayah dan mengakibatkan peningkatan konsentrasi polutan yang tinggi," ucap Hary saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (16/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Partikel PM10 (particulate matter) punya diameter kurang dari 10 mikrometer dan PM2,5 berdiameter kurang dari 2,5 mikrometer. Partikel-partikel tersebut diyakini oleh para pakar lingkungan dan kesehatan masyarakat sebagai pemicu timbulnya infeksi saluran pernapasan, karena partikel padat PM10 dan PM2,5 dapat mengendap pada saluran pernapasan, seperti dikutip dari laporan IPB.
"Nilai konsentrasi tertinggi mencapai 190 mikrogram/m3 pada jam-jam tertentu. Untuk Jakarta, konsentrasi partikel polutan memiliki variasi harian pada jam-jam tertentu mencapai nilai konsentrasi tinggi," lanjut Hary.
Regulasi keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor 45 tahun 1997 terkait Standar Pencemar Udara di Indonesia (ISPU), perhitungan kadar pencemaran udara dihitung salah satunya dari konsentrasi PM10. Untuk mengukur kualitas udara di Jakarta telah dipasang alat pengukur konsentrasi PM10 dan PM2.5.
[Gambas:Video CNN] (evn)