Aktivitas lempeng Indo-Australia yang menyusup ke bawah lempeng Eurasia di dalam perut bumi yang menjadi penyebab gempa. Gempa itu berkekuatan magnitudo 6.0 SR, namun kemudian direvisi menjadi 5.8 SR.
"Hasil analisis mekanisme gempa menunjukan bahwa gempa bumi ini dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan jenis mendatar (oblique thrust fault)," jelas Sadly pada konferensi pers di Gedung BMKG, Jakarta Pusat, Selasa (16/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Atau tepatnya episenter gempa ini berlokasi di laut dengan jarak kurang lebih 80 kilometer dari daratan Bali," katanya.
"Hampir seluruh Indonesia (berpotensi gempa) tidak hanya di Bali. Bisa saja nanti bergeser ke Aceh, ke Papua, karena memang (lempeng) semuanya saling bergerak dan aktif sehingga memicu gempa di daerah pertemuan lempeng itu," jelas Rahmat.
Rahmat juga menjelaskan gempa yang terjadi di Nusa Dua Bali ini tak ada kaitannya sama sekali dengan gempa yang terjadi di Maluku beberapa waktu lalu. Sumber pemicu kedua gempa ini menurut Rahmat berbeda dan tak bisa dikaitkan satu sama lain.
Lihat juga:Doa Netizen untuk Masyarakat Pascagempa Bali |
Saat ditanya apakah gempa yang terjadi di Nusa Dua Bali ini berpotensi meningkatkan aktivitas Gunung Agung, Rahmat tak membantah. Hanya saja kata dia, hal tersebut akan lebih baik dijelaskan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
"Kalau ditanya bisa gak, ya sangat bisa, sangat memungkinkan bahwa itu memicu (aktivitas gunung) tapi tentunya rekan-rekan PVMBG yang bisa menjawab apakah ada peningkatan aktivitas setelah gempa tadi pagi. apakah ada peningkatan tremor di gunung agung misalnya, yang punya catatan adalah di badan geologi," kata dia. (tst/eks)