Padahal menurutnya, data wajah di era Big Data ini sangat signifikan. Apalagi jika makin banyak aplikasi yang menggunakan wajah sebagai metode autentikasi.
"Dalam era Big Data ini, kita tidak tahu sejauh apa potensi bahaya data yang menurut kita simpel saja seperti data wajah. Seberapa berharga data wajah kita. Istilahnya sidik wajah. Karena sekarang sudah banyak aplikasi yg mampu menggunakan wajah sebagai metode autentikasi," kata Alfons saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (19/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasalnya aplikasi ini dianggap kurang bertanggung jawab dengan data foto pengguna yang diunggah ke aplikasi itu. Dalam perjanjian akhir pengguna (EULA) di aplikasi tersebut, tertulis perusahaan memiliki hak untuk mengatur atas apa pun yang dibuat pengguna.
Aplikasi yang memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mengubah wajah pengguna menjadi tampil lebih tua, lebih muda, atau berganti kelamin (FaceApp) |
"Untuk aplikasi FaceApp pada prinsipnya adalah aplikasi yang menjalankan fungsi memanipulasi gambar dengan metode gambar dengan metode tertentu sehingga menjadi menarik. Yang perlu diperhatikan setiap kali menginstal aplikasi adalah EULA (end user license agreement) dan bonafiditas perusahaan pembuat aplikasinya," tambahnya.
Namun perjanjian EULA menurut dia juga menjadi masalah karena meggunakan bahasa hukum dan berbahasa Inggris.
Oleh sebab itu, Alfons menegaskan pengguna harus lebih hati-hati ketika acap kali menggunakan aplikasi baru. Sebab, menurut dia, pemilik aplikasi terkadang memiliki motif terselubung yang dapat merugikan penggunanya.
Alfons pun sempat mencontohkan kasus penyedia layanan pinjaman online di dalam perjanjian EULA bakal mengakses kontak pengguna. Jika pengguna terlambat membayar cicilan maka salah satu kontak akan dihubungi bahkan bisa dipermalukan.
"Salah satu contoh ekstrim adalah penggunaan data kontak user untuk mempermalukan pengguna pinjol [pinjaman online] yang menunggak. Di mana jika terlambat membayar cicilan maka teman kontak di hp akan dihubungi dan mempermalukan pengguna pinjaman," tuturnya.
"Iklan yang ditampilkan oleh Adware berbeda-beda, ada yang bersifat sangat mengganggu seperti munculnya pop-up di desktop atau iklan yang muncul di browser dengan menampilkan mesin pencari khusus," pungkasnya.
Adware merupakan sejenis perangkat lunak yang mempunyai kemampuan untuk menginstalasi dirinya sendiri pada komputer atau ponsel tanpa diketahui oleh pengguna. Perangkat lunak ini akan menampilkan iklan disaat pengguna mencari informasi di internet. (din/eks)
Aplikasi yang memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mengubah wajah pengguna menjadi tampil lebih tua, lebih muda, atau berganti kelamin (FaceApp)