Namun, selain masalah teknis, dana menjadi kendala yang cukup berat. Dilansir dari CNN, NASA membutuhkan dana sekitar US$20 miliar hingga US$30 miliar atau sekitar Rp287 triliun hingga Rp430 triliun.
Administrator NASA Jim Bridenstine mengungkapkan kepada CNN Business bahwa tingginya kebutuhan dana membuat pentingnya kenaikan anggaran NASA sekitar US$4 miliar menjadi US$6 miliar pertahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perkiraan biaya US$20 hingga US$30 miliar ternyata 'lebih murah' dari perkiraan sebagian orang. Bridenstine mengakui bahwa spaceflight bisa berbahaya dan tidak dapat diprediksi, sehingga praktis tidak mungkin untuk menetapkan label harga yang akurat.
"Kami sedang berbicara dengan [Kantor Manajemen dan Anggaran federal], kami sedang berbicara dengan Dewan Antariksa Nasional."
Namun, menang atas anggota parlemen kemungkinan akan menjadi bagian yang paling sulit.
Semua perangkat keras yang dibutuhkan NASA tertunda karena jauh melebihi anggaran atau belum ada.
Sejauh ini, NASA secara resmi hanya meminta tambahan US$1,6 miliar untuk Artemis. Bridenstine menilai tambahan tersebut sebagai 'uang muka' untuk keseluruhan program.
Bridenstine juga harus menang atas Demokrat yang sudah skeptis terhadap misi ke Bulan.
Program Apollo juga terjadi di lingkungan politik yang sangat berbeda. Penerbangan terjadi selama perselisihan Perang Dingin yang pahit dengan Uni Soviet, dan Amerika Serikat sedang ambisius untuk mengalahkan musuhnya ke permukaan bulan.
Berbagai sumber mengungkap, Amerika Serikat menghabiskan sekitar US$25 miliar untuk program Apollo pada 50 tahun lalu atau hampir setara dengan US$150 miliar saat ini.
Beberapa orang khawatir bahwa NASA pada akhirnya akan mengalihkan dana dari program-program lainnya, yang meliputi misi eksplorasi robot, ilmu bumi dan studi iklim dan penelitian ilmiah penting lainnya ke misi ini.
[Gambas:Video CNN] (age)