GIIAS 2019

Mitsubishi Fuso Bicara Investasi RnD di Indonesia

fea, CNN Indonesia | Selasa, 23/07/2019 11:03 WIB
Mitsubishi Fuso Bicara Investasi RnD di Indonesia Truk fuso fighter dan super great v ‘spider’. (CNN Indonesia/Muhammad Ikhsan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Agen pemegang merek (APM) Mitsubishi Fuso, Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB), mengamini bahwa perusahaan tengah mengkaji penanaman investasi di Indonesia dalam bentuk fasilitas research and development (Rnd).

Menurut Direktur Sales & Marketing KTB Duljatmono rencana itu sudah masuk ke tahap pembahasan bersama prinsipal di Jepang.

"Sekarang melakukan pengembangan studi atau diskusi terus dengan prinsipal Jepang, bahwa development nanti akan di Indonesia," kata pria yang akrab disapa Momon itu di Gaikindo Indonesia Internasional Auto Show (GIIAS) 2019, Senin (22/7).


Pengembangan setiap truk Fuso yang dipasarkan di dalam negeri saat ini yaitu Colt Diesel, Fuso, New Fuso, Fighter, dan Tractor Head dikatakan dilakukan di Jepang. Hal itu masih dilakukan walau proses perakitan sudah dilakukan di Indonesia.

Di dalam negeri, merek otomotif yang telah memiliki fasilitas riset dan pengembangan kendaraan baru diketahui adalah Isuzu dan Daihatsu. Wuling sebelumnya juga sempat disebut bakal membangun fasilitas RnD, namun belum terwujud hingga kini.

Momon menyampaikan fasilitas RnD perlu direalisasikan, sebab akan memudahkan bisnis perusahaan. Tujuannya agar produk yang dikembangkan bisa langsung menyesuaikan keinginan konsumen Indonesia.

"Supaya produk ini sesuai dengan kebutuhan konsumen di Indonesia. Tapi tentu sebagai prinsipal akan mendukung terus, berkaitan dengan desain utama atau pengembangan utama dengan teknologi dan sebagainya," ucap dia.

Meski sudah ada niat, Momon belum bisa mengungkap kapan rencana itu akan terealisasi. Bagi dia membangun RnD Fuso di dalam negeri sudah masuk ke dalam rencana jangka panjang perusahaan yang sudah memulai bisnis sejak 1970 itu.

Momon menambahkan keputusan prinsipal soal RnD juga tergantung kepada pasar Indonesia ke depan.

"Ke depan pasti akan mengarah ke sana. Saya susah memprediksi berapa tahun lagi, karena melihat itu terkait dengan permintaan di pasar Indonesia, perkembangan seperti apa, volumenya seperti apa, dan teknologi yang mau diterapkan seperti apa," ucap Momon. (fea)