Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Eko Yulianto mengatakan peta ditargetkan akan selesai pada tahun 2020 mendatang dengan tahap awal di 12 daerah yang memiliki kerentanan bencana tinggi seperti Pangandaran, Cilacap, Kebumen, Purworejo, Yogyakarta, dan Pacitan.
"Dananya hanya 500 juta. Itu anggaran dari DIPA LIPI. Kami berharap peta tersebut tak hanya tsunami, tapi gempa bumi ke depannya," kata Eko dalam jumpa pers di LIPI, Jakarta Selatan, Kamis (25/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peta skala itu juga hanya melingkupi Jawa. Eko menjelaskan Di luar wilayah Jawa, skalanya lebih tidak detail. Peta berskala besar diharapkan bisa menjadikan acuan untuk mengurangi risiko bencana. Peta akan mengombinasikan peta batimetri, peta topografi, dan basis parameter sumber gempa.
Eko mengatakan tanpa rencana mitigasi yang jelas, Pemda justru akan kurang efektif dalam penanggulangan pengurangan risiko bencana. Pemda tidak tahu komponen apa yang harus diperhatikan terlebih dahulu untuk mengurangi risiko lebih efektif.
"Tanpa itu semua (peta mitigasi), yang kita lakukan sebenarnya hal-hal yang sifatnya sporadis. Ibarat kita seperti disuruh berperang atau disuruh berkelahi tapi mata kita ditutup. Jadi kita lakukan sebisa-bisanya tapi kita tidak tahu yang kita lakukan bermanfaat atau tidak," ujar Eko. (jnp/eks)