Kehadiran mereka di kantor Kemenperin hari ini menjadi penanda bahwa perusahaan itu siap menghadapi ketatnya persaingan industri otomotif di Indonesia.
Tidak hanya itu, SMK mengklaim telah menandatangani Letter of Intent (LOI/surat bisnis) bersama asosiasi komponen, yakni Perkumpulan Industri Kecil Menengah Komponen (PIKKO) Indonesia. LoI yang dimaksud sebagai bentuk 'ajakan' agar pemasok komponen memberi dukungan kepada Esemka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu bisa kami buat, tapi kami bagi ke anggota (PIKKO) berapa," kata Fauzi.
Bagian mobil hasil produksi pemasok komponen. (Foto: CNN Indonesia/ Rayhand Purnama Karim) |
Tantangan Produksi Esemka
Fauzi bilang untuk menyanggupi kerja sama bisnis bersama Esemka bukan perkara mudah, sebab tahap awal pasti kuantitas produksi akan sangat sedikit.
"Tergantung juga investasi. Itu mahal. Itu kami minta dia yang bayar karena kuantiti (produksi) belum banyak. Yang mahal di dice and mole (alat produksi dan cetak). Kalau untuk satu unit mobil itu seperti mobil Kijang itu bisa Rp1 triliun," katanya.
Jika jumlah produksi masih terbilang kecil, praktis untuk mengejar efisiensi akan lebih sulit di sektor industri komponen. Namun kondisi berbeda jika Esemka berinvestasi, hal tersebut akan memudahkan proses pengerjaan.
"Tapi katanya mereka sanggup untuk biayai dice and mole, dia investasi," ujar Fauzi.
Fauzi menambahkan Esemka merupakan kesempatan bagi PIKKO yang selama ini tidak memiliki celah menjadi pemasok utama mobil-mobil bermerek di Indonesia.
"Kami bisa menjadi tier satunya. Karena ke APM susah. Karena (APM) maunya rata-rata Jepangnya. Contoh AMMdes, itu kami (PIKKO) bisa suplai langsung," tutup Fauzi.
Bagian mobil hasil produksi pemasok komponen. (Foto: CNN Indonesia/ Rayhand Purnama Karim) |
Bagian mobil hasil produksi pemasok komponen. (Foto: CNN Indonesia/ Rayhand Purnama Karim)
Bagian mobil hasil produksi pemasok komponen. (Foto: CNN Indonesia/ Rayhand Purnama Karim)