Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan pihaknya dapat mengidentifikasi beberapa karakteristik aktivitas gempa pendahuluan.
"Pertama, gempa pendahuluan biasanya terjadi di zona dengan nilai 'B-value' rendah. Nilai 'B-value' rendah artinya di zona itu masih menyimpan tegangan yang tinggi, yang berpotensi terjadi gempa besar," kata Daryono dalam keterangan tertulis, Selasa (13/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Gempa Magnitudo 5.0 Guncang Bali |
"Di zona tersebut ada fenomena migrasi percepatan titik hiposenter yang semakin cepat menuju titik inisiasi lokasi estimasi gempa utama. Selain itu juga teridentifikasi adanya 'repeating earthquakes'. Cirinya gempa ini berulang-ulang dan terjadi di segmen tersebut," ujarnya.
"Aktivitas ini mirip kalau kita mau mematahkan kayu, perlahan-lahan ada retakan-retakan kecil sebelum benar-benar terpatahkan," katanya.
Akan tetapi, ia mengingatkan rentetan gempa belum tentu merupakan gempa pendahuluan dari gempa besar utama.
"Satu hal yang penting diingat bahwa tidak semua klaster aktif akan berujung kepada terjadinya gempa besar, meskipun setiap gempa besar selalu di dahului oleh serangkaian aktivitas gempa pendahuluan," jelasnya.
[Gambas:Video CNN] (jnp/evn)