Hal itu disampaikan Direktur Pengelolaan Sampah KLHK Novrizal Tahar berdasarkan laporan indeks "Perilaku Ketidakpedulian Lingkungan Hidup" dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018.
Di dalam laporan itu, Novrizal menyebut ada empat item salah satunya berkaitan dengan pengelolaan sampah. Indeks yang ditetapkan BPS 0 sampai 1 dan indeks yang paling rendah ialah terkait sampah sebesar 0,72 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi tanpa ada perubahan perilaku dan kebijakan-kebijakan [aturan soal pengurangan sampah plastik] yang sangat signifikan ya memang luar biasa kenaikannya," ucapnya.
Oleh sebab itu, KLHK mendorong kepada para produsen untuk misalnya perusahaan yang bergerak di consumer goods seperti Unilever untuk ikut bertanggung jawab dalam mengurangi sampah plastik.
"Persoalan yang ketiga memang peran tanggung jawab teman-teman produsen seperti Unilever ini juga ada dalam mengurangi persoalan sampah," ujar Novrizal.
Veronika menyebut saat ini Unilever menggunakan kemasan tahan lama yang dapat terus diisi ulang atau refill station.
"Skema refill station memang merupakan salah satu alternatif yang banyak didengungkan oleh berbagai pihak sebagai ganti dari penggunaan kemasan plastik. Penerapan refill station membutuhkan perencanaan yang sangat matang dan uji coba berulang kali untuk memastikan bahwa model ini dapat dilakukan dalam skala besar," jelas dia saat menghadiri acara kampanye 'Yuk Mulai Bijak Plastik' di Arborea Cafe.
Selain itu Unilever juga akan mengembangkan model bisnis lain yang mendukung ekonomi sekular. Artinya, perusahaan bakal memanfaatkan kembali kemasan yang sudah dipakai menjadi bahan kemasan baru.
Model itu akan didukung dengan teknologi CreaSolv yang bisa mendaur ulang sampah kemasan plastik yang berlapis-lapis seperti sachet dan pouch. Dalam konsep ekonomi sikular ini, sampah kemasan plastik akan terus didaur ulang. (din/mik)