"Ini mana yang tercapai lebih dulu," jelas Taqwa Suryo Swasono, ahli sekaligus pembicara yang dihadirkan Autochem saat presentasi seluk beluk cairan rem beberapa waktu lalu.
"Mesti diingat, kenapa ketat sekali harus satu tahun atau 20 ribu km (mobil) atau 10 ribu km (motor)? Saya belum pernah menemukan tutup master silinder yang tertutup sepenuhnya seperti kemasan produknya, kalau bisa dibuka ditutup dengan gampang artinya dia (bisa) terkontaminasi dengan udara," kata Taqwa lagi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Mengenal Cara Kerja ESS pada Skutik 150 |
Sifat higroskopis itu yang membuat komponen ini lebih pantas disebut cairan rem ketimbang minyak rem. Seperti diketahui minyak punya sifat menolak air.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Taqwa mengingatkan juga satu kebiasaan kurang baik pemilik kendaraan, yaitu memakai cairan rem sisa yang sudah tersimpan lama. Menurut dia cairan rem seperti itu lebih memungkinkan terkontaminasi udara.
Kemampuan cairan rem disebut tidak bisa ditakar pakai perasaan atau dugaan. Hitungan saban tahun ganti cairan rem atau 20 ribu km untuk mobil dan 10 ribu km buat motor menurut Taqwa ditemukan lewat penelitian. (fea)