CNNIndonesia.com merangkum empat jagoan lokal di Malaysia dari sektor industri ride-hailing dan layanan pengiriman barang yang akan diusik Gojek.
1. Grab
Perusahaan besutan Anthony Tan ini telah menjadi kekuatan utama penggerak transportasi online disamping Gojek dan Uber. Aplikasi Grab telah diunduh sebanyak lebih dari 155 juta, memberikan pengguna Grab kemudahan untuk terhubung dengan 9 juta mitra pengemudi dan agen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tenggara, serta layanan pengantaran makanan dan barang di lebih dari 338 kota di 8 negara. Pada Desember 2018, perusahaan mengklaim telah mendapat total pendanaan sebesar US$6,5 miliar atau sekitar Rp92,6 triliun.
Layanan Grab di Malaysia mencakup GrabCar, GrabRide, GrabSend, hingga GrabFood.
Dego merupakan aplikasi besutan putra bangsa Malaysia, Nabil Feisal Bhamadhay yang saat ini menjabat sebagai CEO Dego. Berbeda dengan Grab, Uber, dan Gojek, Dego hanya menyediakan layanan ojek online dan layanan pengiriman barang pintu ke pintu.
Berbeda pula dengan Grab, Uber, dan Gojek, Dego Ride memiliki jam kerja dari jam 9 pagi hingga jam 10 malam. Layanan Dego juga masih terbatas di Lembang Klang. Lembah Klang sendiri berada di pusat ibukota Malaysia,
3. MatDespatch
Untuk urusan layanan pengantaran barang, GoSend bakal mengusik para pemain layanan pengantaran barang pintu ke pintu berbasis aplikasi di Malaysia. Salah satu pemain lokal pengantaran barang di Malaysia adalah MatDespatch.
Serupa dengan layanan Dego Ride, layanan MatDespatch bari bisa digunakan di Lembah Klang.
4. Karhoo
Serupa dengan MatDespatch, Karhoo layanan pengantaran barang pintu ke pintu berbasis aplikasi asli Malaysia. Karhoo menawarkan layanan berupa layanan premier 1-3 hours Delivery, (3HrD), Same Day Delivery (SDD) and Next Day Delivery (NDD). Layanan ini pun masih terbatas di Lembah Klang.
Namun, rencana ekspansi Gojek ke Negeri Jiran awalnya mendapat reaksi keras setelah bos perusahaan Big Blue Taxi Services, Shamsubahrin Ismail menolak keberadaan Gojek. Padahal Gojek menyebut ekspansi bisnis mereka di Malaysia sudah mendapat restu dari Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad.
Di Indonesia, masalah jadi runyam setelah video pernyataan bos perusahaan Big Blue Taxi Services, Shamsubahrin Ismail ramai dibicarakan netizen. Dalam video itu, Shamsubahrin dianggap merendahkan para mitra Gojek di Indonesia. (jnp/eks)