Besar kemungkinan perusahaan pembuat perangkat telekomunikasi dan merek smartphone nomor dua dunia itu akan menggunakan sistem operasi Android versi open-source untuk Mate 30. Dengan demikian, ia tidak harus terganjal aksi blokir AS, seperti dilaporkan Reuters.
Sistem operasi Google yang kemungkinan akan disematkan pada Mate 30 hanya bisa digunakan di Eropa dengan lisensi berbayar, tapi tidak bisa digunakan di luar Eropa. Mate 30 sendiri rencananya akan meluncur di Munich, Jerman.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Akan menjadi kesulitan besar bagi Huawei memasarkan Mate 30 kepada konsumen di Eropa," jelas Ben Stanton, analis senior dari firma riset Canalys. "Hilangnya layanan Google dari ponsel flagship belum pernah terjadi sebelumnya."
Perusahaan ini juga tak bisa membeli lisensi software dari Google dan Microsoft. Huawei pun tak bisa mengakses berbagai layanan Google yang merupakan perusahaan AS. Terutama untuk produk-produk yang baru meluncur.
Huawei sudah mengantisipasi pelarangan dagang ini dengan menyediakan setok. Namun, perusahaan itu kesulitan untuk menanggulangi masalah ketersediaan software.
Sebelumnya, perusahaan asal China itu telah mengamankan beberapa lisensi Google untuk beberapa ponsel yang meluncur sebelumnya. Namun, ketika Mate 30 belum masuk dalam daftar ketika larangan AS muncul, tulis CNN.
Meski sudah menyiapkan sistem operasi tandingan, HarmonyOS atau HongMeng. Namun, Huawei tetap menjadikan Android tetap menjadi pilihan utama perusahaan itu. (eks)