Sebagai bentuk keseriusannya, Moeldoko membesut bus bertenaga listrik Mitra Anak Bangsa (MAB) yang terakhir dikabarkan telah diuji coba di Bandara Udara Soerkano-Hatta dan untuk penggunaan transportasi umum khususnya Transjakarta.
Dikatakan Moeldoko, bus ramah lingkungan itu diklaim dibangun oleh anak bangsa untuk menjawab kebutuhan transportasi umum dalam negeri di masa depan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pabrik yang berdiri di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulteng itu untuk menunjang industri kendaraan listrik di Indonesia yang ditargetkan untuk mengurangi ketergantungan bahan bakar minyak (BBM).
"Ini yang kami pikirkan masa depan baterai, baterai adalah masa depan. Dan inilah yang sekarang dipikirkan (Menko Kemaritiman) Pak Luhut Binsar Panjaitan mungkin dua tahun lagi Indonesia akan punya pabrik baterai. Sehingga kalau mandiri ada empat komponen utama, baterai, motor, controller untuk mengubah kecepatan," ucap Moeldoko.
"Karena kita bisa membangun baterai, motor sendiri. Jadi baterai ada tiga, packaging, baterai sel, dan manajemen baterai. Ini tidak sulit. Makanya tidak terlalu lama lah untuk sebentar lagi bisa jadi konsumsi secara luas," ucap Moeldoko.
Dijelaskan Moeldoko Indonesia butuh memproduksi kendaraan listrik secara mandiri, sebab ini untuk mengurangi impor minyak sebagai bahan penggerak mobil konvensional.
"Kenapa harus menuju mobil listrik? Karena kebutuhan energi kita impor 600 ribu barel setiap hari. Cukup besar. Harus juga pikirkan anak cucuk kita karena emisi berkembang tidak sehat. Maka udara harus kita bersihkan lewat moblis (mobil listrik). Kita juga harus bangun kapasitas nasional," tutupnya.
[Gambas:Video CNN] (ryh/mik)