Hal ini disampaikan pengamat media sosial dari Drone Emprit, Ismail Fahmi, terkait pernyataan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara. Kemarin (3/9) Rudiantara menyampaikan penyebaran hoaks terkait gejolak di Papua banyak dilakukan lewat Twitter.
"Kenapa Twitter? karena platformnya open (terbuka). Orang secara internasional tinggal memasukkan kata kunci, bisa dilihat semua (kontennya). Sehingga, mereka harus pakai Twitter kalau mau membangun narasi internasional," jelas Ismail saat dikontak lewat telepon, Rabu (9/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Twitter lebih bebas dan kalau jadi trending internasional, mudah diambil media internasional," lanjutnya.
Ismail lantas mencontohkan bagaimana Twitter efektif digunakan untuk menyebar isu sensitif ke dunia internasional seperti dilakukan Trump.
Menurut Ismail, hoaks yang disebarkan lewat Twitter ini sebagian besar terkait isu pembebasan Papua Barat yang kontra NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).
"Ini berbahaya, kalau diteruskan eskalasi akan mudah masuk ke PBB dan negara lain. Karena banyak lembaga LSM lain akan menyerang, memanfaatkan isu ini (kerusuhan Papua)," tegasnya.
Ismail menyarankan pemerintah mesti aktif melakukan kontra narasi atas isu ini. Ia berharap pemerintah tidak sekedar memberi label hoaks pada berita-berita bohong tersebut. (eks)