Sebanyak lebih dari 50 jaksa agung yang menyerukan penyelidikan tersebut. Mereka juga menaruh perhatian soal apakah Google menyalahgunakan kekuasaannya dalam ekosistem online dengan mengorbankan saingan atau konsumen.
Langkah ini, terkait dengan dominasi Google dalam iklan online. Hal ini dilakukan menyusul penyelidikan serupa terhadap Facebook pekan lalu. Penyelidikan terhadap dua perusahaan teknologi raksasa itu merupakan tindak lanjut dari meningkatnya keluhan tentang dominasi perusahaan Big Tech.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Apa yang kita semua pelajari adalah bahwa [...] internet tidak gratis [...] (Meski) banyak konsumen percaya internet gratis," jelas Paxton pada konferensi pers di depan Mahkamah Agung AS.
Jaksa Agung Utah Sean Reyes, yang bergabung dengan konferensi pers, mengatakan, "pertanyaan bagi kami adalah apakah Google telah menyimpang dari prinsip pendiriannya untuk tidak melakukan kejahatan."
Lihat juga:Langgar Privasi Anak, YouTube Didenda Rp28 T |
Kent Walker, Wakil Presiden Senior Google untuk urusan global mengatakan perusahaan akan bekerja sama dengan regulator. Namun ia menekankan bahwa layanannya "membantu orang, menciptakan lebih banyak pilihan, dan mendukung ribuan pekerjaan dan usaha kecil di seluruh Amerika Serikat."
Menurut firma riset eMarketer, Google memimpin pasar iklan digital AS dengan 37,2 persen saham senilai sekitar $ 48 miliar tahun ini dan diperkirakan akan mengendalikan 20 persen dari semua pengeluaran iklan AS, online dan offline.
Google sejauh ini merupakan mesin pencari online terbesar dan menangkap hampir 75 persen iklan online terkait pencarian di AS, menurut eMarketer. (eks)