Duka kepergian Habibie sebagai 'bapak' bangsa sangatlah membekas. Ia dikenal sebagai pribadi yang cerdas, termasuk ikut berkecimpung pada dunia otomotif nasional.
Habibie dikenal menjadi salah satu penggagas mobil nasional Indonesia saat menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
[Gambas:Twitter]
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Singkat cerita cikal bakal mobil nasional Maleo disebut akan dikembangkan pada 1993.
Rover saat itu disebut akan mengirim sedan langsung dari pabriknya di Inggris ke Indonesia. Setelah tiba di Indonesia, mobil itu 'dipreteli' dan kemudian dibangun kembali menggunakan komponen asal Indonesia yang dikembangkan Pindad, IPTN, INTI, LEN, dan Krakatau Steel.
Mobil Maleo dahulu direncanakan resmi mengaspal pada 1994, dan diproduksi massal di Indonesia tiga tahun kemudian.
Dikabarkan bahwa sedan Maleo punya nesin 1.200 cc dan menggunakan 60 persen komponen lokal. Saat itu diproyeksi harga mencapai Rp25 juta.
Purwarupa pertama Maleo disebut cukup canggih. Kecepatannya bisa mencapai sampai 140 km per jam. Mesin juga diklaim irit bahan bakar sehingga tidak membuat polusi.
Saat itu Habibie juga sempat menyampaikan bahwa Maleo akan menggunakan mesin dari Ford dan General Motors, asal Amerika Serikat.
Proyek mobil nasional Maleo terus dibicarakan sejak 1994. Bahkan Komisi X DPR meminta Habibie membuat mobil sendiri dengan berpijak pada industri pesawat terbang yang telah berkembang pesat lebih dahulu.
Usulan DPR lalu disampaikan Habibie kepada Presiden Soeharto. Menurut Habibie, Soeharto tidak berkeberatan. Habibie lantas mengadakan kajian guna merealisasikan mobnas Maleo.
Namun, belum sempat proyek Maleo teralisasi sehingga Indonesia punya mobil nasional, pemerintah orde baru Soeharto harus berakhir. Hal ini yang diduga membuat Maleo tidak pernah 'menggelinding' hingga sekarang. (ryh/mik)