"Pastinya mengancam habitat di sana, kalau hewan di sana itu yang asli Pulau Sumatra salah satunya spesies harimau. Namun mereka itu punya naluri untuk berpindah tempat," kata Plt Kepala Pusat Penelitian Biologi LIPI, Joeni Setijo Rahajoe saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (13/9).
Selain harimau, Joeni mengatakan spesies hewan lain yang keberadaannya terancam yakni burung rangkong jenis Enggang Papan. Burung ini berukuran besar dengan panjang mencapai 160 sentimeter dan ekornya berwarna belang hitam-putih dengan leher kecil yang menyangga kepala berparuh kuning.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Belum tahu ya kalau di Riau pemantik apinya dari mana, kita juga tidak bisa menyebut karhutla ini karena ulah manusia makanya harus ditinjau lagi," ucapnya.
Ditambah lagi dengan gambut dari bahan bakar sisa tumbuhan jika sampai di bawah permukaan dapat membuat api di lahan gambut mudah menjalar.
"Sekarang kan lagi musim kemarau panjang, lahan gambut di sana pasti kering sehingga mudah sekali terbakar," pungkasnya.
Khusus di Riau, titik panas terbanyak di Kabupaten Indragiri Hilir (127), Indragiri Hulu (31), Pelalawan (30), Rokan Hilir (18), Kuansing dan Kampar (masing-masing 11), Bengkalis (7), Siak (3), dan kota Dumai (1). Dari jumlah tersebut dipastikan ada 177 titik api dengan lokasi terbanyak di Inragiri Hilir (98, Inhu (20), Pelalawan (21), Rohil (13), Kuansing (9), Kampar (8), Bengkalis (6), dan Siak (2).
[Gambas:Video CNN] (din/evn)