Membandingkan Karhutla di Indonesia Pada 2015 dan 2019

CNN Indonesia | Rabu, 18/09/2019 11:10 WIB
Membandingkan Karhutla di Indonesia Pada 2015 dan 2019 Asap pekat akibat karhutla di Pekanbaru, Riau. (Foto: CNN Indonesia/Patricia Diah Ayu Saraswati)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi momok bagi pemerintah dan masyarakat, terlebih saat musim kemarau. Tahun ini kebakaran hutan kembali terjadi di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan, Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Sebelumnya pada 2015, karhutla juga memicu asap pekat hingga turut dirasakan di Malaysia dan Singapura. Mengutip situs Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), berikut perbandingan karhutla pada 2015 dan 2019.

Karhutla 2015

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat, sebanyak 2,6 juta hektare hutan dan lahan terbakar dengan 120 ribu titik api sejak Juni hingga Oktober 2015.


Provinsi yang dinyatakan darurat asap antara lain Sumatera Selatan, Jambi, Kepulauan Bangka Belitung, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah dengan lahan terbakar mencapai 23 dan 16 persen dari keseluruhan area.

BNPB melaporkan 120 ribu titik api berhasil dipadamkan lewat berbagai upaya seperti waterbombing, hujan buatan, dan pemadaman darat. Upaya ini ditambah terjadinya hujan besar pada Oktober 2015 yang berhasil menurunkan jumlah titik api secara drastis.

World Bank mencatat kerugian dari karhutla mengakibatkan 28 juta jiwa terdampak, 19 orang meninggal, dan hampir 500 ribu orang mengalami gangguan pernapasan  atau ISPA. Asap yang dihasilkan dari karhutla turut dirasakan hingga Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

Pasca kebakaran hutan pemerintah kemudian membentuk Badan Restorasi Gambut untuk merestorasi 2 juta laham gambut yang dilaporkan sangat mudah terbakar. Tak hanya itu, pemerintah juga melaporkan upaya pemindahan perkebunan yang berada di atas gambut ke area non-gambut.

Membandingkan Karhutla di Indonesia Pada 2015 dan 2019Sebaran karhutla pada 2015. (Foto: Screenshot via web BNPB)
Karhutla 2019

Seperti halnya karhutla pada 2015, kebakaran hutan dan lahan kali ini terjadi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, Jambi, dan Sumatra Selatan. Akibat asap yang dihasilkan Presiden Joko Widodo menyatakan status siaga darurat di keenam provinsi tersebut.

Secara keseluruhan BNPB mencatat area terbakar mencapai 328.724 hektare dengan 2.719 titik panas pada periode Januari hingga Agustus 2019.

Berdasarkan data dari BNPB yang dirilis pada Senin (16/9) pukul 16.00 WIB, hingga Agustus ini dampak kebakaran terluas terjadi di Riau yang mencapai hingga 49.266 ha. Menyusul Kalimantan Tengah yang mencapai 44.769 ha, Kalimantan Barat 25.900 ha, Sumatra Selatan 11.426 ha, dan Jambi seluas 11.022 ha. Angka tersebut diperkirakan akan terus bertambah seiring dengan musim kemarau yang belum berakhir dan hujan yang masih belum turun. 

Membandingkan Karhutla di Indonesia Pada 2015 dan 2019Karhutla pada 2019. (Foto: Screenshot via web BNPB)

Menurut data terakhir tersebut, saat ini titik api yang terbanyak berada di Kalimantan Tengah yang mencapai 513 titik panas (hotspot). Kemudian menyusul Kalimantan Barat dengan 384 titik panas.

Untuk memadamkan api, BNPB menerjunkan 44 helikopter dengan rincian 34 helikopter untuk waterbombing dan 10 untuk patroli. Disamping itu upaya pemadaman api juga dilakukan menggunakan 270 juta liter air untuk waterbombing, 163 ribu kilogram garam disemai untuk membuat hujan buatan, dan 9.072 personil untuk pemadaman di darat.

Sementara menurut Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, pihaknya akan meyemai 50 ton garam di Kalimantan Barat dan 15 ton di Riau secara bertahap sejak Sabtu (14/9). 

"Penyemaian akan dilakukan sampai hujan alam turun dan karhutla reda," tulis BNPB dalam keterangannya.

Membandingkan Karhutla di Indonesia Pada 2015 dan 2019Foto: CNN Indonesia/Fajrian
(ndn/evn)