Nama Captiva cukup harum di Tanah Air, generasi pertama mobil ini dijual perdana pada 2007. Mobil yang dijuluki oleh komunitas pemiliknya 'badak' ini sempat menjadi tulang punggung GM Indonesia.
Pada 2018 lalu GM Indonesia menyatakan sudah setop mengimpor Captiva dari Thailand yang menandakan penjualannya dihentikan. Saat itu belum ada kepastian GM Indonesia bakal menjual generasi kedua Captiva.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah itu Indonesia juga meluncurkan SUV berbasis Baojun 530 yang diberi nama Wuling Almaz pada 23 Januari 2019. Produksi Almaz dilakukan di pabrik SGMW Motor Indonesia yang berada di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat.
Menyusul peluncuran Almaz, anak perusahaan SAIC Motor Corporation di India, yaitu MG Motor India, meluncurkan SUV bernama Hector yang juga berbasis Baojun 530. Model ini merupakan hasil rebadge ketiga Baojun 530.
Captiva terbaru yang akan diserap konsumen Thailand berasal dari pabrik yang sama dengan Almaz di Indonesia. Kabarnya hingga akhir tahun ini suplai Captiva ke Thailand bisa mencapai setidaknya 1.000 unit.
GM Indonesia 'Tak Boleh' Jual Captiva
Pengembangan generasi kedua Captiva yang diputuskan dilakukan dengan pihak China mempengaruhi strategi penjualan GM Indonesia. Di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) pada Juli lalu sempat terdengar kabar bahwa GM Indonesia 'tidak diizinkan' menjual generasi kedua Captiva.
Sumber dari SGMW Motor Indonesia yang mengatakan hal itu tidak menjelaskan latar belakangnya. Namun, ada asumsinya keputusan dilakukan untuk memproteksi penjualan Almaz di dalam negeri.
Yuniadi H. Hartono, Chevrolet External Affairs and Communications Director GM Indonesia mengomentari pernyataan tersebut, namun tidak spesifik menjelaskan duduk perkaranya.
Menurut dia keputusan menghentikan penjualan generasi pertama Captiva dan tidak melanjutkan penjualan generasi kedua atas alasan riset pasar otomotif di Indonesia.
Yuniadi menjelaskan guna mengatasi portfolio tanpa Captiva perusahaannya saat ini fokus pada dua model, yaitu Trailblazer dan Trax.
"Sebetulnya sih ini cuma fokus saja karena kita kan di sini ada dua jenis SUV, Trailblazer dan Trax. Keduanya juga umurnya kan baru dua tahun, (pembaruan) baru diluncurkan 2017 kemarin," kata Yuniadi saat dihubungi, Jumat (13/9).
Kehilangan Captiva bisa jadi menyulitkan GM Indonesia mengembangkan penjualan. Menurut data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), pada 2017 penjualan Captiva sempat mencapai 276 unit lantas drop jadi 71 unit pada 2018.
"Sebetulnya kembali tidak keputusan siapa-siapa tapi kami kembali melihat dari pasarnya, pasar menghendaki yang mana dan kita coba memenuhi permintaan pasar," kata Yuniadi.
Brand Manager SGMW Motor Indonesia Dian Asmahani yang dikonfirmasi tentang kebijakan Chevrolet Captiva 'tidak diizinkan' dijual di Indonesia menolak berkomentar.
"Saya ngga bisa jawab, lebih baik ditanyakan langsung GM," ucap Dian singkat. (fea/mik)